Waspada! Sejumlah Daerah Masuk Masa Puncak Bencana Alam

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Ilustrasi bencana hidrometeorologi. Foto: istimewa
Sejumlah kejadian bencana alam terjadi pada awal tahun 2021. Bencana alam seperti tanah longsor hingga yang teranyar gempa berkekuatan 6,2 magnitudo yang mengguncang Majene, Sulawesi Barat, pada Jumat (15/1) dini hari.

Tak hanya longsor dan gempa, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati juga memperingatkan masyarakat akan adanya potensi bencana hidrometeorologi.

Puncak bencana hidrometeorologi yang diperkirakan akan terjadi pada Januari dan Februari 2021, disebut Dwikorita terjadi akibat curah hujan yang intens dan berdurasi lama.

“Memasuki Januari, Februari, dan Maret masih ada juga tapi puncaknya untuk bencana hidrometeorologi dikhawatirkan puncaknya Januari dan Februari,” ujar Dwikorita dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (15/1).

Bencana Hidrometeorologi adalah bencana yang dampaknya dipicu oleh kondisi cuaca dan iklim dengan berbagai parameter.

Beberapa parameternya di antaranya adalah peningkatan curah hujan, suhu ekstrem, cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang disertai angin kencang serta kilat atau petir.

Atas potensi ancaman bencana itu, Dwikorita meminta agar masyarakat dapat mempersiapkan diri. Segala antisipasi harus dilakukan.

Sebagai rujukan masyarakat, dalam dua hari ke depan Dwikorita pun mengingatkan soal adanya potensi cuaca ekstrem yang terjadi di sejumlah wilayah. Potensi hujan lebat, kata dia, patut diwaspadai seluruh masyarakat di beberapa wilayah seperti Jawa Timur, Papua Barat, Papua, hingga Sulawesi dalam dua hari ke depan.

“Mohon kewaspadaan terus disiapkan diterapkan dan khusus untuk cuaca ini mungkin ditambahkan, pada tanggal 15 Januari juga diprediksi dengan probabilistik lebih dari 60 persen itu potensi hujan lebat hingga ekstrem terjadi di Jawa timur, Papua Barat dan Papua,” ucap Dwikorita.

“Kemudian untuk tanggal 16 untuk dengan probabilistik lebih dari 60 persen untuk potensi hujan lebat dapat mencapai ekstrem yaitu lebih dari 50 mm terjadi di wilayah sulawesi,” lanjut dia

Potensi multibahaya atau multirisiko baik dari aspek cuaca, iklim, gempa ataupun tsunami menurut Dwikorita telah diprediksi pihak BMKG akan meningkat intensitas sejak Oktober 2020 lalu. Sehingga ia meminta untuk masyarakat di daerah mana pun di Indonesia untuk tetap waspada akan potensi cuaca di daerahnya.

“Ini perlu diwaspadai terutama Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Papua. Namun demikian di wilayah Sulawesi Barat tetap perlu juga memperhatikan hal tersebut,” kata Dwikorita.


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *