Waspada Penipuan Dengan Modus Hendak Membeli Mobil

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bandung, Sukon – Masyarakat hendaknya selalu berhati-hati dengan banyaknya modus penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh para pelaku kejahatan. Dewasa ini modus yang dipergunakan sudah sangat beragam.

Peringatan juga untuk para penjual kendaraan bermotor, supaya tidak menyerahkan kendaraan dan surat – suratnya kepada orang lain dengan alasan apapun baik untuk itu test mesin atau alasan lainnya. Banyak sudah contoh kasus penipuan yang menimpa masyarakat, terutama yang berhubungan dengan jual beli mobil melalui perantara media jual beli online.

Kali ini yang menjadi korban adalah Kus (49) seorang warga Perumahan Puri Nirwana Residence, Bekasi. Karena percaya dengan modus yang digunakan oleh si penipu, Kus harus kehilangan sebuah mobil Suzuki Ertiga putih miliknya.

Sebelumnya Kus menawarkan mobil Suzuki Ertiga yang masih dalam status cicilan miliknya melalui sebuah aplikasi jual beli daring ( online) pada bulan Maret 2019 lalu. Kus mengaku hendak mengover kredit mobil miliknya karena ingin mengganti dengan kendaraan yang baru.

Dihubungi melalui telepon, Kus mengatakan bahwa mobil tersebut masih mencicil.

“Mobil ini memang masih berstatus cicilan. Saya bermaksud mengalihkan kredit mobil ini karena ingin mengganti dengan mobil yang baru” kata Kus kepada Sukon, Senin (15/7).

Kemudian iklan tersebut ditanggapi oleh seseorang yang bernama Andy. Melalui nomor WA yang dipasang oleh Kus, Andy menghubungi Kus dan mengaku berminat membeli mobil miliknya tersebut.  Andy mengajak Kus bertemu untuk melihat langsung kondisi mobil tersebut. Kus pun setuju untuk bertemu dengan Andy.

Namun pada hari Kamis tanggal 14 Maret 2019, Kus didatangi seseorang yang bernama Erdi yang mengaku sebagai teman Andy. Erdi mengatakan bahwa dirinya diperintahkan oleh Andy untuk memastikan kondisi kendaraan milik Kus.

Singkat cerita, tanpa banyak menawar harga, oknum bernama Erdi ini menyepakati harga yang ditawarkan oleh Kus. Sebagai bentuk keseriusan, Erdi mengirimkan dana sebesar 30 juta yang diakuinya dana tersebut berasal dari Andy. Kus pun mengakui bahwa ada notifikasi dari M-Banking miliknya yang memberitahukan ada sejumlah dana yang masuk ke rekeningnya.

Setelah memastikan dana tersebut masuk ke rekeningnya, kemudian Kus mengajak Erdi untuk membuat sebuah perjanjian yang dibubuhi materai 6 ribu. Erdi menyetujuinya dan untuk lebih meyakinkan Kus, Erdi juga mengajak Kus datang ke kantor leasing/finance yang bersangkutan untuk melunasi kredit mobil tersebut, sekaligus mengambil BPKB nya pada hari Sabtu 16 Maret 2019. Tidak lupa Erdi juga menitipkan copy E-KTP miliknya kepada Kus.

Setelah menandatangani perjanjian bawah tangan itu, Erdi meminta kepada Kus agar diizinkan membawa mobil tersebut dengan dalih untuk diperlihatkan kepada Andy. Erdi pun berjanji akan menjemput Kus di kantor tempat Kus bekerja, untuk bersama sama datang ke leasing pada hari yang telah disepakati.

Dengan pertimbangan bahwa Erdi menunjukan itikad baik karena sudah mentransfer sejumlah dana untuk uang muka, akhirnya Kus setuju menyerahkan mobil miliknya lengkap dengan kunci dan STNK asli untuk dibawa oleh Erdi.

Pada hari Sabtu pagi 16 Maret, sesuai dengan yang telah dijanjikan oleh Erdi, Kus menunggu kedatangan Erdi di kantornya. Ditunggu tunggu sampai siang oknum bernama Erdi ini tidak kunjung menampakan batang hidungnya. Kus kemudian mencoba menghubungi Erdi melalui nomor telepon yang diberikan oleh Erdi. Namun nomor tersebut malah tidak aktif.

Merasa was-was dengan kondisi tersebut, akhirnya Kus memutuskan untuk mendatangi alamat yang tertera di KTP Erdi. Sesampainya di alamat tersebut, Kus mendapatkan kenyataan bahwa alamat yang diberikan memang benar ada, tapi rumah yang dimaksud dalam keadaan kosong, bahkan terkunci.

Berdasarkan dari keterangan ketua RT setempat, Kus pun mengetahui bahwa rumah dengan alamat tersebut sering dipergunakan untuk kumpul – kumpul oleh sekelompok anak muda dengan identitas dan kegiatan yang tidak jelas.

Karena merasa khawatir dirinya menjadi korban penipuan, Kus berusaha melacak identitas Erdi melalui jejaring sosial dan rekening yang dipergunakan oleh Erdi untuk mengirim uang.

Pencarian tersebut memunculkan sejumlah fakta bahwa KTP dengan nama Erdi tersebut ternyata digunakan oleh orang lain. Karena walau baik NIK, nama dan alamatnya asli, namun  foto yang tertera di E-KTP bukan foto orang bernama Erdi. Saat bertemu dengan keluarga Erdi yang asli pun, Kus mendapatkan keterangan bahwa Erdi yang asli tidak bisa mengendarai mobil.

Dengan kata lain, oknum penipu tersebut menggunakan KTP orang lain dengan menempelkan foto wajahnya sendiri untuk mengelabuhi Kus.

Bahkan berdasarkan penelusuran Kus ke bank yang bersangkutan, rekening yang dipergunakan untuk bertransaksi oleh Erdi pun ternyata atas nama orang lain.

Setelah yakin dirinya telah menjadi korban penipuan, Kus tidak langsung melaporkan kejadian tersebut kepada polisi. Ia berusaha melacak sendiri keberadaan mobilnya melalui beberapa orang yang dia temui di tempat tersebut saat melacak keberadaan Erdi.

“Saat saya mendatangi alamat yang bersangkutan, saya sempat bertemu dengan seseorang yang kemudian menawarkan bantuan untuk mencari mobil saya.” Ujar Kus.

“Orang berinisial SAR ini mengaku sebagai collector dari sebuah leasing. Dia menjanjikan dalam sebulan mobil tersebut bisa ditemukan,” tambahnya.

Disinilah pepatah sudah jatuh tertimpa tangga berlaku kepada Kus. Sar yang mengaku bisa membantu Kus menemukan mobilnya tersebut kemudian meminta sejumlah dana sebagai biaya operasional pencarian. Ucapan Sar ini sangat meyakinkan, sehingga tanpa berpikir panjang Kus mau saja memberikan sejumlah dana yang diminta oleh Sar.

“Saya memberikan uang kepada Sar secara bertahap. Ada yang saya berikan langsung dan sebagian lagi ditransfer. Total saya sudah memberikan dana sebanyak 30 juta” kata Kus.

Sayang, setelah semua syarat dipenuhi, Sar malah tidak bisa memberikan laporan yang memuaskan.

“Pengakuannya sih dia sudah berhasil mendapatkan informasi bahwa mobil saya berada di salah satu daerah di Jawa. Terakhir saat dihubungi pada tanggal 17 Mei, Sar mengatakan bahwa dia sedang melacak keluarga orang yang mengaku bernama Erdi tersebut. Tapi sampai sekarang tidak ada lagi kelanjutan apapun” terang Kus.

Pada akhirnya Kus hanya bisa pasrah, namun dalam waktu dekat ini ia berencana untuk melaporkan penipuan ini ke pihak kepolisian.

Bukan Kejadian Pertama

Kasus yang menimpa Kus ini bukanlah kejadian yang pertama kali. Sebelumnya pada tahun 2018 lalu, pihak kepolisian berhasil membongkar praktik penipuan dengan modus jual beli mobil ini. Dari pengungkapan tersebut, polisi berhasil menciduk beberapa orang pelaku yang rata – rata masih berusia muda.

Berdasarkan penelusuran Sukon, mediaTribunnews.com pernah merilis berita tentang penangkapan komplotan penipu di daerah Barelang, Kota Batam.

Seperti dilansir dari Tribunnews.com, pada bulan Desember 2018 lalu, Unit 1 Satreskrim Polresta Barelang, Batam membongkar jaringan penipuan 14 mobil berbagai merek seperti Fortuner, Avanza, Xenia, hingga Ertiga.

Penipuan mobil merek seperti Fortuner, Avanza, Xenia, hingga Ertiga itu melalui forum jual beli di media sosial.

Modusnya yakni pura-pura membeli mobil dengan membayar uang muka lalu membawa kabur mobil beserta STNK.

Polisi menangkap satu orang tersangka bernama Agung Goodfabel (21).

Agung adalah orang yang paling dicari saat ini karena melakukan penipuan dengan modus jual beli.

Setidaknya, sudah ada 14 orang yang menjadi korban penipuan oleh Agung, saat ini Agung masih diproses pihak kepolisian sembari polisi mencari pelaku lainya.

Agung yang ditemui di Unit 1 Satreskrim Polresta Barelang, Kamis (13/12) sore bercerita, kalau sasaran dia adalah masyarakat yang hendak menjual mobil di Forum Jual Beli di media sosial.

Namun Agung tidak bekerja sendiri, ia bersama jaringan lainnya.

Yakni dengan dua temanya berinisial Rg dan Ar.

“Ada tiga orang dalam kasus ini yang terlibat, namun kita baru mengamankan Agung,” sebut Ipda Pandu Renata Surya kanit 1 Satreskrim Polresta Barelang.

Yang bertugas mencari target yakni Rg, kemudian Rg menanyakan berapa mobil itu akan dijual.

Setelah ada kesepakatan harga, Rg menelepon Ar untuk mengirim uang kepada Agung. Sementara Agung bertugas untuk mengantarkan uang kepada pemilik mobil.

Uang muka yang diserahkan kepemilik sesuai dengan kesepakatan antara penjual dengan Rg.

“Misalnya dia minta Rp 20 juta, uang itu diserahkan ke pemilik mobil yang akan menjual. Tapi yang nyerahkan Agung,” sebut Pandu lagi.

Setelah uang diserahkan, Agung kemudian mendapatkan mobil dan STNK mobil. Kemudian mereka berjanji akan bertemu di sebuah perusahaan leasing mobil.

“Tetapi besoknya, nomor Agung ataupun si Rg ini tidak aktif. Sementara kendaraan sudah berada di tangan mereka plus dengan STNK,” tambah Pandu.

Sejauh ini menurut Pandu, polisi masih memburu dua orang lagi.

Laporan Agung ini juga sudah masuk ke beberapa polsek.

Setidaknya ada 11 mobil dan tiga motor yang mereka ambil dengan modus hendak membeli.

“Mobil yang mereka ambil adalah Fortuner, Avanza, Xenia, Ertiga dan dua motor,” tegasnya.

Sementara Itu, Agung mengaku sudah enam bulan ia bekerja seperti itu.

Untuk satu kali transaksi ia mendapatkan uang Rp 3 juta. Sementara untuk sepeda motor Rp 750 ribu.

“Saya tahu kalau itu kerjaan salah. Cuma saya nggak ada kerjaan lain. Saya baru bebas penjara juga,” tegasnya.

Selama berkomplot dengan Rg dan Ar, setidaknya uang yang ia dapat sekitar Rp 30 juta. Bahkan Agung berani kos ditempat mewah di kawasan Nagoya bersama kekasihnya.

Editor : Erix Right


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *