Unpad dan Habibie Center Diminta Tegas Soal Dugaan Plagiat Profesor Nina Lubis

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung dan Yayasan SDM-IPTEK Habibie Center diminta bersikap tegas atas adanya dugaan plagiat yang dilakukan oleh salah satu pengajar di Unpad, yakni Profesor Nina Herlina Lubis. Sebab jika keduanya terkesan tetap menggantung kasus ini tanpa kejelasan akan menjadi preseden buruk bagi publik, khususnya dunia akademik.
Profesor Nina Lubis merupakan salah satu penerima penghargaan Habibie Award pada tahun 2015 lalu. Namun, penghargaan yang diterima oleh Nina Lubis tersebut diprotes oleh budayawan Ajib Rosidi. Bahkan, sebagai bentuk protesnya, Ajib Rosidi mengembalikan penghargaan Habibie Award bidang kebudayaan yang diterimanya pada tahun 2009 lalu berserta uang penghargaannya.

Kritikus sastra dan dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIPB-UI) Maman S Mahayana kepada AKURAT.CO, di Universitas Pakuan, Bogor, Kamis (15/11/2018), mengatakan Unpad dan Yayasan SDM IPTEK harus membuktikan bahwa pihak yang diduga plagiator itu tidak melakukan plagiasi. Dunia akademik boleh ‘berkelahi’ tapi berdasarkan data dan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun di luar itu harus tetap berhubungan baik.

Dengan berbagai alasan berlatar belakang reputasi dan nama baik, menurut Maman, boleh saja kedua lembaga terhormat itu menggantung masalah seperti yang dilakukan sekarang dan membiarkan publik menduga-duga. Tapi, tukas dia, cara seperti ini buruk sekali karena kedua institusi ini tidak punya sikap yang jelas.

“Pemberian hadiah itu kan pasti dilandasi dengan sikap ideal tertentu. Jadi, baik Unpad maupun Yayasan SDM IPTEK harus bersikap. Bahwa sikapnya membela tokoh pilihannya, silakan. Kalau membela, ungkapkan apa dasarnya. Berdebatlah secara sehat. Dengan demikian publik dapat belajar bahwa inilah demokrasi dan inilah kehidupan di dunia akademik,” tegas peneliti yang menamatkan Program Pascasarjana dari UI pada 1996 itu.

Di mata Maman, Indonesia memerlukan tokoh-tokoh seperti Ajip Rosidi yang berani menegakkan kebenaran dengan segala risikonya.

“Ajip Risidi tidak mungkin bersikap seperti itu jika tidak ada dasarnnya,” pungkas Maman S Mahayana.

Di dalam keterangan pers yang didampingi Abrori Djabbar sebagai penasihat hukum dan sejarawan JJ Rizal sebagai moderator, Jumat (9/11/2018) lalu, Ajip Rosidi secara panjang lebar mengungkapkan kronologi alasan kenapa dia mengembalikan piagam dan uang hadiah yang diterimanya pada 2009 itu.

Menurut Ajip, dirinya merasa terhina karena Yayasan SDM IPTEK pada 2015 juga memberikan hadiah sejenis kepada seorang profesor wanita dari Unpad yang dianggapnya sebagai seorang plagiator atas sejumlah karya, termasuk yang diplagiat itu adalah karya mahasiswa profesor wanita itu menjadi sebuah buku.

Pengembalian hadiah dan uang itu disebut Ajip Rosidi sebagai pemenuhan janjinya dulu bahwa andai Yayasan SDM IPTEK tidak mencabut Hadiah Habibie kepada profesor wanita itu maka dia akan mengembalikan penghargaan tertinggi dalam bidang ilmu dan kebudayaan tersebut. Dia menyatakan dirinya tidak mau disejajarkan dengan seorang plagiator karena sama-sama menerima Hadiah Habibie. Bahkan, menurut Abrori Djabbar, Ajib Rosidi yang sangat mengharapkan didikonfrontir oleh pihak Yayasan SDM IPTEK atau Unpad perihal bukti-bukti adanya plagiat itu, juga tidak terwujud.

Sementara SDM IPTEK Habibie Center dalam rilisnya beberapa waktu lalu menjelaskan para calon penerima Habibie Award diusulkan oleh institusi atau akademisi. Para juri mencalonkan ilmuwan yang terpilih tersebut dengan memperhatikan segi administratif dan telah memenuhi standar kelimuwan yang tinggi. Selanjutnya, dewan juri menilai para nominator diseleksi berdasarkan standar profesionalitas, integritas, dan etika keilmuwan.


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *