Sadis! Saat Debitur Terbaring Sakit, Debt Collector Masih Tega Merampas Kendaraan

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tatang Zaelani (terbaring) saat ditemui oleh pengurus LPKNI Jawa Barat dan wartawan SUARAKONSUMEN.ID di Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung pada 10 September 2019. (Foto: dok Sukon)

Bandung, SUKON – Tindakan penagih hutang atau debt collector (DC) yang dipekerjakan oleh perusahaan pembiayaan sekarang ini semakin tidak berperikemanusiaan. Sekelompok orang yang tidak jelas dasar hukumnya itu, semakin semena mena dalam memperlakukan debitur yang menunggak kredit kendaraan. Tanpa prosedur legal, dan tanpa memiliki rasa perikemanusiaan, mereka langsung main ‘sikat’ kendaraan milik penunggak cicilan.

Salah satu perlakuan tidak beradab tersebut dialami oleh pemilik mobil Tatang Zaelani (48), warga kota Sukabumi yang menunggak cicilan ke PT WOM Finance Sukabumi. Ironisnya, perampasan tersebut terjadi saat Tatang sedang dirawat di rumah sakit.

Tatang menuturkan kepada Sukon bahwa kejadian tersebut dia alami saat dirinya sedang terbaring sakit di Rumah Sakit Boromeus Bandung pada bulan September 2018 lalu. Menurut Tatang, dirinya memang sedang mengalami kesulitan keuangan, sehingga mengalami keterlambatan membayar cicilan.

“Sejak bulan April 2018 sakit diabetes saya semakin parah. Saya hanya bisa tiduran saja di kasur, beberapa pekerjaan yang sebelumnya sedang saya garap menjadi terhambat. Hal inilah yang membuat saya mengalami kesulitan membayar cicilan.” kata Tatang kepada Sukon, Senin (3/12).

Dessy yang merupakan istri Tatang sudah berusaha menjelaskan kondisi tersebut kepada pihak WOM Finance, namun tidak mendapat tanggapan yang positif.

“Istri saya sudah berulang kali memohon kepada petugas WOM Finance yang datang, agar bisa menunda pembayaran sampai saya bisa kembali bekerja. Namun mereka tidak mau mengerti, malah mereka meminta agar kendaraan dititipkan di kantor WOM Finance” keluhnya.

Jelas Tatang menolak permintaan tersebut, karena mobil itu memang dipergunakan sebagai penunjang pekerjaan Tatang. Apalagi kondisi Tatang sedang sakit, sehingga membutuhkan kendaraan untuk berobat.

Karena penyakit Tatang semakin parah, akhirnya pada awal bulan September 2018 lalu Dessy memutuskan membawa suaminya ke Rumah Sakit Santo Borromeus di kota Bandung. Pada saat Tatang dirawat di rumah sakit itulah peristiwa perampasan oleh sekelompok begundal tersebut terjadi.

Dessy menerangkan pada hari Rabu tanggal 5 September 2018 sekira pukul 12.10 WIB, adiknya yang bernama Septrian Haryadi disuruh oleh Dessy untuk membeli beberapa kebutuhan dengan menggunakan mobil tersebut.

Namun saat berada di area parkir RS Santo Borromeus Bandung, adik ipar Tatang itu ‘disergap’ oleh kurang lebih lima orang yang mengaku petugas penagihan (debt collector) dari PT.WOM FINANCE.

Menurut penuturan Dessy, para debt collector tersebut mengaku petugas dari PT WOM Finance yang pada saat itu langsung berusaha merampas paksa kendaraan milik Tatang, dengan dalih telat membayar cicilan.

“Adik saya berusaha mempertahankan kendaraan tersebut, dengan mengatakan bahwa kendaraan tersebut bukan miliknya, namun kemudian kunci kendaraan dan STNK nya direbut paksa oleh para debt collector tersebut.” kata Dessy.

“Karena bersikeras tidak mau menyerahkan kunci kendaraan, akhirnya adik saya dipaksa naik ke mobil tersebut. Lalu kemudian adik saya dibawa ke kantor leasing WOM di jalan Peta kota Bandung.” terang Dessy.

“Kemudian adik saya dipaksa menandatangani surat penyerahan kendaraan, namun ditolak oleh adik saya.” lanjut Dessy kepada Sukon.

Mendengar insiden tersebut, kesehatan Tatang sempat ‘drop’.

“Suami saya sempat mengalami kritis saat mendengar mobilnya dirampas.” imbuh Dessy.

Pimpinan Lembaga Perlindungan Konsumen Nasional Indonesia (LPKNI) Jawa Barat, Rahmat Mulyana sangat geram saat menerima pengaduan tentang aksi kriminal yang dilakukan oleh para DC itu.

“Tindakan para debt collector itu adalah ilegal, dan jelas tergolong ke dalam tindakan kriminal. Hal ini sudah tidak bisa ditolelir lagi” kata Rahmat Mulyana.

“Pihak kepolisian harus bertindak tegas untuk memberantas para preman yang diperintahkan oleh perusahaan pembiayaan ini.” lanjutnya.

Menurut Rahmat Mulyana, pihak finance atau leasing tidak boleh merampas kendaraan begitu saja. Ada beberapa prosedur yang harus ditempuh oleh perusahaan pembiayaan sebelum mereka bisa melakukan eksekusi atas kendaraan yang menunggak cicilan.

Rahmat menerangkan bahwa perjanjian antara perusahaan pembiayaan dengan debiturnya seharusnya diselesaikan melalui jalur pengadilan.

Menurut Rahmat, perusahaan pembiayaan selalu berdalih mereka mengeksekusi kendaraan berdasarkan perjanjian fidusia, namun kenyataannya mereka tidak pernah mendaftarkan perjanjian kredit tersebut ke kantor pendaftaran fidusia.

“Logikanya jika mereka memiliki sertifikat fidusia, tentu yang mendatangi anda bukanlah kelompok preman tapi karyawan  perusahaan pembiayaan itu sendiri dengan membawa surat putusan pengadilan yang kemudian dikawal oleh pihak kepolisian.” lanjutnya.

Menindak lanjut pengaduan kasus perampasan kendaraan tersebut, Rahmat Mulyana menerangkan pihaknya pernah melayangkan somasi kepada WOM FInance Sukabumi sebanyak dua kali.

“Dalam somasi pertama dan kedua, kami memanggil WOM Finance ke kantor LPKNI Jabar di Bandung untuk melakukan mediasi damai, namun pihak tersomasi malah bersikap arogan dengan malah balik meminta kami beserta debitur datang ke kantor mereka dengan membawa uang untuk membayar cicilan.” kata Rahmat.

“Ini jelas merupakan sebuah bukti pelecehan terhadap sebuah lembaga pelaksana undang – undang.” seru Rahmat.

Dengan tidak adanya kesepakatan tersebut, LPKNI akan menempuh jalur hukum guna mendapatkan keadilan bagi konsumen.

“Karena WOM Finance kota Sukabumi  tidak kooperatif, terpaksa kami mengarahkan debitur untuk menggugat mereka ke pengadilan.” tutup Rahmat Mulyana.

Berdasarkan keterangan yang diterima oleh Sukon, Tatang akan mendarftarkan gugatan tersebut ke Pengadilan Negeri kota Sukabumi pada hari Selasa 4 Desember 2018.

 

Peliput : Usep Jamaludin

Editor : Erix Right


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *