Prajurit Yonif R 301/PKS Bergotong Royong Membersihkan Makam Cut Nyak Dhien

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Para prajurit Yonif R 301/PKS Sumedang bergotong royong membersihkan makam Pahlawan Nasional asal Aceh, Cut Nyak Dhien di komplek pemakaman Gunung Puyuh Sumedang, Jum’at (30/10).

Sumedang, Medkom – Kegiatan sosial bagi masyarakat terus dilakukan oleh para prajurit Yonif R 301/PKS di bulan Oktober ini. Contohnya dalam dua hari terakhir ini, setelah hari Kamis (29/10) kemarin Yonif R 301/PKS sukses menggelar Maulid Nabi Muhammad SAW yang dirangkai dengan bakti sosial dan pembagian santunan kepada para anak yatim, pada hari Jum’at (30/10) siang  para tentara tersebut melakukan kegiatan membersihkan makam pahlawan, di komplek pemakaman Gunung Puyuh Sumedang.

Kegiatan bhakti sosial ini difokuskan pada makam Pahlawan Nasional asal Aceh, yakni Cut Nyak Dhien. Tidak kurang dari 25 orang Prajurit Yonif Raider 301/PKS turun langsung dalam kegiatan yang dipimpin oleh Letda Inf Riska Sst.Han yang merupakan putra asli Aceh. Puluhan prajurit tersebut tak segan-segan terjun langsung membersihkan sampah serta rumput-rumput liar yang tumbuh di area makam.

Dalam keterangannya, Danyonif R-301/PKS , Mayor Inf Wahyu Alfiyan S.Ip , M.lpol mengatakan bahwa maksud dari upaya membersihkan makam pahlawan wanita tersebut selain bernilai ibadah, juga merupakan wujud penghormatan para prajurit terhadap jasa-jasa para pahlawan yang gugur saat merebut kemerdekaan.

Danyonif juga menambahkan bahwa kegiatan ini juga untuk mempererat keterikatan bathin antara masyarakat Sumedang dan Aceh yang mana Prajurit R- 301/PKS pernah bertugas menjaga keamanan di Aceh pada tahun 2003 lalu. Situasi Aceh yang semakin panas pada saat itu membuat TNI terus mengirim pasukannya. Sedikitnya 1.300 personel TNI dari Batalyon Infanteri (Yonif) 301/PKS Sumedang dan Yonif 315 Bogor diterjunkan untuk mengamankan situasi di daerah yang tengah dikuasai oleh kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Pendekatan persuasif yang dilakukan oleh para prajurit dari Yonif 301/PKS berhasil merebut simpati dari rakyat Aceh.

Keberhasilan prajurit TNI dari Yonif R 301/PKS Sumedang ini juga tidak terlepas dari ikatan bathin antara masyarakat Aceh dengan masyarakat Sumedang. Sebagaimana diketahui, Cut Nyak Dhien adalah salah satu Pahlawan Nasional wanita dari Aceh yang dimakamkan di Kabupaten Sumedang. Bagi masyarakat Aceh, Cut Nyak Dhien merupakan sosok ibu yang sangat dihormati.

Sebagaimana diketahui, sebelum wafat, Cut Nyak Dhien yang saat itu dalam keadaan sakit keras, sempat dirawat oleh rakyat Sumedang. Atas keikhlasan rakyat Sumedang dalam merawat Cut Nyak Dhien, membuat masyarakat Aceh mengganggap masyarakat Sumedang sebagai saudara.

Cut Nyak Dhien merupakan simbol perlawanan rakyat Aceh terhadap para penjajah yang memimpin perang di Aceh dari Tahun 1873 -1908. Namun sayangnya, perjuangan gigih wanita tersebut runtuh setelah dikhianati oleh seorang anak buahnya sendiri. Seorang pengawal Cut Nyak Dien yang bernama Pang Laot tega membocorkan informasi lokasi markas Cut Nyak Dhien kepada Belanda.

Bocornya informasi tersebut membuat Belanda dengan leluasa menyerang markas Cut Nyak Dien di Beutong Le Sageu. Pasukan Cut Nyak Dhien bertempur mati-matian, namun pada akhirnya perlawanan tersebut dapat dituntaskan oleh pasukan Belanda. Cut Nyak Dhien kemudian berhasil ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh. Namun keberadaan Cut Nyak Dhien yang dianggap masih memberikan pengaruh kuat terhadap perlawanan rakyat Aceh serta hubungannya dengan pejuang Aceh yang belum tertangkap membuatnya kemudian diasingkan ke Sumedang yang jauh dari tanah rencong.

Cut Nyak Dhien dibawa ke Sumedang bersama tahanan politik Aceh lain. Keberadaan wanita tua misterius yang tengah sakit ini menarik perhatian bupati Sumedang, Pangeran Suriaatmaja. Beliau bertanya tanya siapa tahanan wanita yang dijaga super ketat tersebut. Namun tentara Belanda melarang tahanan lain mengungkapan identitas tahanan Cut Nyak Dhien.

Di Sumedang, Cut Nyak Dhien ditahan bersama ulama bernama Ilyas dan ulama tersebut segera menyadari bahwa Cut Nyak Dien adalah ahli dalam agama Islam. Hal tersebut membuat Cut Nyak Dien oleh masyarakat Sumedang dijuluki “Ibu Perbu”.

Tepat pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dien meninggal karena faktor sakit dan usia yang sudah tua. Makam Cut Nyak Dien sendiri baru ditemukan pada tahun 1959, itupun karena permintaan Gubernur Aceh kala itu, Ali Hasan. .

Setelah diasingkan Belanda ke Sumedang Cut Dien yang lebih dikenal dengan ibu ratu atau Perbu menghabiskan sisa usianya dengan mengajar mengaji kepada masyarakat hingga meninggal dunia pada tanggal 6 November 1908, dan dimakamkan di Gunung Puyuh Kab.Sumedang pada tahun 1908.

Menurut cerita dari penjaga makam Gunung Puyuh Asep Sukandar, makam Cut Nyak Dhien baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh waktu itu, Ali Hasan yang memerintahkan melakukan pencarian makam pahlawan wanita ini berdasarkan data yang diperoleh dari pihak Belanda.

Cut Nyak Dien kemudian diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Soekarno melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964. Dan sejak itu, sampai saat ini makam Cut Nyak Dhien tak pernah sepi dari para Peziarah, terlebih di tanggal 6 November setiap tahunnya jumlah peziarah akan meningkat karena pada tanggal tersebut Cut nyak Dhien wafat.

Dalam usia yang menginjak ke – 75 tahun ini, TNI semakin menunjukan bahwa mereka adalah panutan bagi rakyat Indonesia. Kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) tidak hanya membawa dampak positif bagi masyarakat, tetapi juga membuat TNI semakin dekat dengan rakyat.

Editor : Raden Erik


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *