Penyidik KPK Telusuri Suap untuk Hakim PN Jaksel

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

JAKARTA – Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah rampung memeriksa empat dari enam saksi kasus dugaan suap penanganan putusan perkara perdata yang sedang diproses di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), pada hari ini.

Empat saksi yang diperiksa yakni, Staf Keuangan PN‎ Jaksel, Yulhendra; Kepala Humas PN Jaksel, Ahmad Guntur; Panitera Pengganti pada PN Jaksel, Matius‎; dan satu pihak swasta, Thomas Azali. Sedangkan dua pihak swasta lainnya yakni, Isrullah Achmad, dan Resa Indrawan Samir mangkir alias tidak hadir.

“Penyidik hari ini memeriksa empat dari enam saksi yang dijadwalkan untuk tersangka IW (Iswahyudi Widodo) dalam perkara suap terkait dengan putusan perkara perdata di PN Jakarta Selatan Tahun 2018,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (11/12/2018).

(Baca juga: Staf Keuangan hingga Humas PN Jaksel Dipanggil KPK Terkait Suap Penanganan Perkara)

Menurut Febri, keempat saksi tersebut didalami peran dua hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang diduga menerima suap untuk memuluskan putusan perkara perdata yang sedang diproses. Tak hanya itu, penyidik juga menelusuri uang suap untuk para hakim.

“Penyidik juga mendalami terkait proses penerimaan dana dari para pihak kepada para hakim tersebut,” pungkasnya.

Sedangkan pihak yang diduga sebagai pemberi suap, KPK menetapkan seorang Advokat, Arif Fitrawan (AF) dan pihak swasta, ‎Martin P Silitonga (MPS) yang juga merupakan tahanan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan atas dugaan pelanggaran pidana umum.

Diduga, dua Hakim PN Jaksel menerima uang suap untuk memuluskan penanganan perkara perdata yang sedang ditanganinya sebesar Rp650 juta melalui panitera Muhammad Ramadhan. Uang tersebut diduga berasal dari Arif dan Martin.

Uang Rp650 juta itu terdiri dari pemberian pertama sebesar Rp150 juta. Kemudian, pemberian kedua Rp500 juta yang telah ditukarkan menjadi mata uang asing jenis Dollar Singapura sebesar 47 ribu.

ko

Sebagai pihak yang diduga penerima, Iswahyudi, Irwan dan Muhammad Ramadhan disangkakan melanggar Pasal 12 huruf c atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan sebagai pihak yang diduga pemberi, Arif dan Martin disangkakan melanggar Pasal 6 ayat (1) huruf a atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.‎

(wal)

Sumber : Okezone.com

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *