OTT KPK di PN Jakarta Selatan Pakai Kode: Bagaimana, Jadi Ngopi Nggak?

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Dari OTT KPK yang digelar di PN Jakarta Selatan, akhirnya ditetapkan lima orang tersangka dari enam orang yang diamankan.

Wakil Ketua KPK Alexander Marwata menjelaskan, para tersangka dalam kasus tersebut diketahui menggunakan kode untuk mengelabui lembaga antirasuah.

Kode ‘ngopi’ itu digunakan untuk menyuap hakim PN Jakarta Selatan, R Iswahyu Widodo dan Irwan.

“Teridentifikasi kode yang digunakan adalah ‘ngopi’ yang dalam percakapan disampaikan. ‘Bagaimana, jadi ngopi nggak?” bebernya, Kamis (29/11/2018).

‘Ngopi’ dimaksud adalah berkaitan dengan janji pemberian uang dari Arifin melalui Ramadhan selaku perantara.

“MR (Muhammad Ramadhan) itu sudah menyampaikan ke oknum hakim tersebut agar dibantu (pengurusan perkara perdata),” katanya.

“Kedua hakim itu menanyakan kepada MR, ‘Ayo kapan, jadi ngopi nggak?’ Nah, itu untuk mereka bertemu,” lanjut Alex.

Dalam pertemuan itu, sambung Alex, kedua oknum hakim tersebut juga menanyakan apakah uang yang dijanjikan melalui Ramadhan sudah ada atau belum.

“Dalam pertemuan tersebut kedua hakim menanyakan apakah uangnya sudah ada apa belum? Seperti itu,” ujar Alex lagi.

Diberitakan PojokSatu.id sebelumnya, operasi senyap itu berawal dari adanya laporan masyarakat yang langsung ditindak-lanjuti.

“Tim KPK mengamankan AF (seorang pengacara, Arif Fitrawan) dan rekannya di sebuah restoran cepat saji di daerah Tanjung Barat,” beber Alex, Kamis (29/11/2018).

Secara bersamaan, sebut Alex, tim KPK lainnya mengamankan panitera pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Timur Muhammad Ramadhan di kediamannya di kawasan Pejaten Timur.

Dalam penangkapan tersebut, tim juga sempat mengamankan seorang petugas keamanan.

“Di rumah MR, tim KPK mengamankan uang yang diduga terkait dengan suap dalam perkara ini, sebesar 47.000 dollar Singapura,” jelasnya.

Lebih lanjut, pada pukul 23.00 WIB, dua tim KPK bergerak secara terpisah.

Yakni mengamankan Hakim Iswahyu dan Irwan di kosan mereka masing-masing di kawasan Jalan Ampera Raya.

“Setelah itu, enam orang yang ditangkap langsung dibawa ke Gedung KPK, untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut,” papar dia.

Setelah melakukan gelar perkara, dua hakim PN Jaksel dan panitera pengganti PN Jaktim itu diduga menerima suap sebesar SGD 47 ribu dari Martin P Silitonga.


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *