Ningsih : “Saat Anak Saya Sakit Keras, Petugas WOM Finance Sumedang Tega Menarik Motor Cicilan”

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sumedang, Sukon – Tindakan penarikan kendaraan yang dilakukan oleh petugas perusahaan pembiayaan dewasa ini semakin tidak terkendali. Bahkan terkadang dengan tanpa dibarengi dengan prosedur dan dokumen yang sah secara hukum, mereka langsung main ‘sikat’ kendaraan milik penunggak cicilan.

Kejadian penarikan kendaraan ini sempat dialami oleh keluarga Ningsih (43), warga Desa Margamukti sumedang Utara. Ironisnya, penarikan kendaraan tersebut terjadi justru ketika sang debitur sedang sakit keras.

Saat ditemui oleh Sukon pada hari Minggu (27/1) di rumahnya yang sederhana, wanita paruh baya tersebut menerangkan bahwa almarhumah anaknya yang bernama Venna Meilani Yuliana mendapatkan fasilitas kredit sepeda motor merek Honda Beat dari WOM Finance Sumedang, dengan tenor 24 bulan.

Copy KTP almarhumah Venna Meilani Yuliana, debitur WOM Finance Sumedang yang motornya ditarik saat sedang sakit. Almarhum meninggal dunia pada 1 Januari, beberapa hari setelah motor yang dia cicil ditarik oleh petugas WOM Finance.

Kata Ningsih, selama itu cicilan tersebut lancar dibayar oleh almarhumah.

“Almarhum anak saya janda dengan satu anak yang masih kecil, namun dia memiliki pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannya. Untuk cicilan motor pun dia tidak pernah membebani orangtuanya” ujar Nining

“Memang pernah ada keterlambatan pembayaran, namun anak saya selalu mengusahakan agar jangan sampai lewat bulan. Terakhir anak saya membayar cicilan yang bulan November 2018 lalu” kata Nining sambil memperlihatkan bukti bukti pembayarannya.

Pada awal Desember 2018 lalu, Venna yang didiagnosis mengidap penyakit kelenjar getah bening, terpaksa harus dirawat di RSUD Sumedang pada 5 Desember 2018 lalu.

Setelah kurang lebih satu minggu dirawat di rumah sakit, menurut Nining, akhirnya almarhum diizinkan untuk dirawat di rumah. Selama sakit almarhum tidak dapat bekerja, dan lebih fokus untuk membiayai pengobatan. Hal inilah yang menyebabkan anaknya belum bisa membayar cicilan yang bulan Desember ke pihak WOM Finance Sumedang.

Karena keterlambatan pembayaran tersebut, Nining mengaku bahwa Venna didatangi petugas penagih dari WOM Finance Sumedang.

“Saat itu saya sudah menerangkan kepada penagih yang datang bahwa anak saya sedang sakit keras” ujar Nining.

Nining pun menyebutkan bahwa anaknya hanya belum membayar tagihan yang bulan Desember 2018 saja.

“Artinya kan belum lewat satu bulan. Namun penjelasan tersebut tidak digubris oleh mereka,” keluh Nining.

Sehingga menurut Nining, pada akhirnya seminggu sebelum tahun baru 2019, petugas WOM Finance Sumedang itu memaksa untuk mengambil sepeda motor tersebut. Karena tidak mau ribut, Nining dan suaminya terpaksa menyerahkan sepeda motor itu kepada petugas WOM Finance.

Penarikan kendaraan tersebut nyatanya membuat Venna yang merupakan putri sulungnya tersebut syok, sehingga kondisinya semakin drop.

Karena kondisinya semakin memburuk, pada akhirnya pada tanggal 31 Desember 2018, Venna dilarikan ke RSUD Sumedang. Namun sayang, nyawanya tidak dapat tertolong lagi. Tepat pada 1 Januari 2019, Venna menghembuskan nafas terakhirnya.

Kemudian pada tanggal 2 Januari 2019 atau hari kedua setelah almarhumah Venna meninggal, Nining kembali didatangi lagi petugas dari WOM Finance Sumedang yang meminta Nining agar menandatangani surat penyerahan kendaraan.

“Saya terpaksa menandatangani surat itu, karena tidak paham hukum, akhirnya saya ikuti kemauan mereka.” lanjut Nining

Nining sangat menyesalkan penarikan sepeda motor tersebut, dengan tanpa menghiraukan kondisi anaknya yang tengah sakit keras, bahkan sampai meninggal dunia.

“Kok tega sekali, seolah tidak punya hati. Penyebab keterlambatan tersebut karena memang anak saya sedang sakit keras. Apalagi tunggakannya tidak sampai berbulan – bulan ” kata Nining.

Setelah lewat suasana berduka, Nining pun mendatangi kantor WOM Finance Sumedang untuk meminta kejelasan tentang motor tersebut. Namun sayang Nining mendapatkan yang tidak memuaskan dari petugas yang berada di kantor pembiayaan tersebut.

Nining menerangkan karyawan di kantor WOM Finance Sumedang itu menyebutkan bahwa motor tersebut tidak bisa diambil kembali, karena menunggak 1 bulan.

“Katanya bisa diambil kembali asal menyediakan sejumlah uang untuk penebusan yang menurut saya tak masuk akal nilainya.” keluh Nining.

“Padahal niat saya dan suami datang kesana itu untuk membayar tunggakan dan memang kami juga masih sanggup untuk meneruskan cicilan motor tersebut.” lanjutnya.

“Yang membuat keluarga kami sakit hati adalah petugas WOM Finance itu tetap tega menarik kendaraan saat anak kami sedang sakit keras.” tutupnya

Pimpinan Lembaga Perlindungan Konsumen Nasional Indonesia (LPKNI) wilayah provinsi Jawa Barat, Rahmat Mulyana,S.H., yang mendapatkan laporan tentang kasus ini sangat menyesalkan terjadinya peristiwa ini.

“Saya tentu sangat menyesalkan terjadinya lagi hal seperti ini. Namun saya tidak akan mengomentari dari sisi kemanusiaan. Silakan anda sendiri yang menilai manusiawi atau tidaknya tindakan WOM Finance itu” katanya kepada Sukon, Senin (28/1).

Menurut Rahmat Mulyana, pihak finance atau leasing tidak boleh melakukan penarikan kendaraan secara sepihak begitu saja.

“Ada beberapa prosedur hukum yang harus ditempuh oleh perusahaan pembiayaan sebelum mereka bisa melakukan eksekusi atas kendaraan yang menunggak cicilan.” ujarnya.

“Undang – undang fidusia menjelaskan bahwa eksekusi barang jaminan fidusia itu tidak boleh dilakukan secara ilegal. Apalagi ada undang – undang dan aturan – aturan lain yang menyertainya. Antara lain, UU Perbankan, Perkapolri, atau Peraturan Menteri Keuangan dan peraturan – peraturan lainnya.” terangnya.

“Jika memang benar hanya terlambat tanggal pembayaran saja, tentu tidak bisa dikategorikan ke dalam kredit macet. Coba dilihat aturan atau definisi dari kredit macet. Apalagi ada ahli waris yang memang masih sanggup bertanggungjawab untuk melanjutkan cicilan.” lanjutnya.

Rahmat juga mempertanyakan tentang sertifikat fidusia yang memang wajib ada dalam setiap perjanjian kredit kendaraan.

“Coba anda tanyakan, ada tidak sertifikat fidusianya? Jika mereka paham dan menjalankan UU Fidusia, tentu mereka tidak akan sembarangan menyita barang jaminan tanpa membawa surat putusan pengadilan. Apalagi eksekusi tersebut juga harus mendapatkan pengawalan dari pihak kepolisian.” lanjutnya.

Rahmat Mulyana,S.H. menyarankan agar permasalahan ini diselesaikan di meja hijau.

“Dalam kasus ini, kami melihat bahwa memang patut diduga disini telah terjadi pelanggaran hukum. Untuk itu kami telah menyarankan kepada ahli waris almarhum untuk segera mengajukan gugatan ke pengadilan. Kami juga akan terus memantau perkembangan kasus ini sampai tuntas” pungkasnya.

Informasi terakhir, Nining menyatakan akan segera menggugat pihak WOM Finance Sumedang ke Pengadilan Sumedang.

Berita ini diperoleh berdasarkan keterangan langsung dari narasumber yang bersangkutan, melalui wawancara dan dengan disertai bukti bukti tertulis.

Sesuai Undang-undang nomor 40 tahun 1999 tentang pers, Hak Jawab adalah hak seseorang, sekelompok orang, organisasi atau badan hukum untuk menanggapi dan menyanggah pemberitaan atau karya jurnalistik yang melanggar Kode Etik Jurnalistik, terutama kekeliruan dan ketidakakuratan fakta, yang merugikan nama baiknya kepada pers yang memublikasikan.

Untuk itu redaksi suarakonsumen.id memberikan hak jawab kepada pihak PT.WOM FINANCE Sumedang untuk menyampaikan tanggapan atas isi pemberitaan ini melalui email suarakonsumen.net @gmail.com

Reporter : Right


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *