Komunitas Budaya Jagariksa Mendorong Pemerintah Lebih Memperhatikan Kearifan Lokal

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Keberadaan seniman dan budayawan di Kabupaten Sumedang dewasa ini harus lebih diperhatikan oleh pemerintah daerah Sumedang.

Secara faktual dapat kita saksikan bagaimana kearifan lokal yang sarat kebijakan dan filosofi hidup nyaris tidak terimplementasikan dalam praktik hidup yang makin pragmatis.

Dalam silaturahmi para budayawan di dusun Bosok, Sumedang hari Senin 1 April 2019, salah seorang budayawan Sumedang, Udung Sapta Aji mengatakan dengan sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang banyak, semestinya Sumedang harus lebih maju dari kota kota lainnya.

Menurutnya, untuk meningkatkan PAD Sumedang dari sektor pariwisata adalah dengan melakukan revitalisasi situs situs budaya paska dibangunnya Waduk Jatigede yang menenggelamkan ratusan situs sejarah dan budaya di Sumedang.

Udung yang juga Ketua Umum komunitas budayawan Jagariksa Sumedang Larang, menyampaikan langsung bahwa saat ini komunitas budaya di Sumedang masih kekurangan fasilitas tempat pertemuan, tempat beraktifitas dan kekurangan peralatan kesenian. Terutama legalitas atau badan hukum dari komunitas komunitas budaya yang telah ada.

“Saya berharap agar ke depannya di setiap desa dan kecamatan harus dibentuk komunitas yang memiliki legalitas. Artinya, komunitas budaya yang telah berbadan hukum tersebut nantinya diharapkan bisa mengelola situs situs budaya di daerahnya secara mandiri.” lanjut Udung

Sementara Sekjen Jagariksa, ki Gede Ageung Santaya Sanjaya berharap agar pemerintah Sumedang membantu menyediakan perlengkapan fasilitas bagi seniman dan budayawan.

Hal senada dikatakan ketua harian komunitas Jagariksa, Jajang Nurjaman. Pria yang akrab disapa Janur ini menyatakan siap mendorong pemerintah untuk memajukan seni dan budaya sunda di Sumedang,

“Sebagaimana yang telah kita ketahui, Sumedang telah ditasbihkan sebagai puseur budaya Sunda, bahkan diakui pula sebagai pusat budaya nusantara. Oleh karena itu sudah menjadi tugas kami untuk mendorong pemerintah agar memberikan perhatian yang lebih terhadap budaya dan para budayawannya.” ungkap Janur.

Janur mengatakan, Sumedang harus memiliki destinasi destinasi wisata bernuansa tradisi sunda, untuk memperkenalkan budaya sunda atau Sumedang ke seluruh dunia.

“Untuk memajukan seni dan kebudayaan sunda, tempat rekreasi yang bernuansa kesundaan ini mutlak harus ada.” pungkas Janur.

Ketua 2 Jagariksa, Ade W Nugraha, turut menyampaikan bahwa kearifan lokal adalah warisan masa lalu yang berasal dari leluhur, yang tidak hanya terdapat dalam sastra tradisional (sastra lisan atau sastra tulis) sebagai refleksi masyarakat penuturnya, tetapi terdapat dalam berbagai bidang kehidupan nyata, seperti filosofi dan pandangan hidup, kesehatan, dan arsitektur.

“Dalam dialektika hidup-mati (sesuatu yang hidup akan mati), tanpa pelestarian dan revitalisasi, kearifan lokal pun suatu saat akan mati. Bisa jadi, nasib kearifan lokal mirip pusaka warisan leluhur, yang setelah sekian generasi akan lapuk dimakan rayap.” ujarnya kepada Sukon, Senin ( 1/4 ).

Reporter : Erix Right


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *