Kisah kisah Inspiratif ‘Sang Penerang’ di Hari Guru

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Hari ini, Senin, 25 November 2019 adalah Hari Guru Nasional.

Berbagai bentuk ucapan ‘Selamat Hari Guru’ memenuhi lini masa di media sosial sebagai bentuk apresiasi terhadap para pengajar di seluruh Indonesia.

Memperingati Hari Guru Nasional bukanlah untuk sekedar memberi ucapan selamat saja. Namun harus juga dipahami bagaimana perjuangan mereka dalam memanusiakan manusia.

Tak terhitung sudah berapa banyak orang yang sukses karena jasa seorang guru. Namun kadang kita lupa akan jasa mereka, sehingga saat kita sudah menjadi ‘orang’, kita lupa memperjuangkan nasib kalangan guru.

Selalu saja ada kisah-kisah mengharukan dari perjuangan para pahlawan tanpa tanda jasa ini, demi mendidik para muridnya.

Jika kita mau jujur, dan sedikit membuka mata, masih banyak para guru yang nasibnya kurang layak. Perjuangan berat mereka kadang tidak sebanding dengan apa yang mereka dapatkan.

Seorang guru mungkin sudah cukup puas dengan melihat keberhasilan dari anak didiknya. Akan tetapi, hak hak mereka tidak lantas kita lupakan. Mereka juga adalah manusia yang butuh materi untuk hidup dan menghidupi. Namun pada kenyataannya, masih sangat banyak guru yang belum menerima hak mereka secara layak.

Berikut ini kami sajikan beberapa kisah perjuangan yang dilakukan guru demi memberikan pendidikan pada muridnya, yang kami sadur dari tribunnews.com berdasarkan rangkuman dari kompas.com:

1. Diana Indrawati, guru yang berjuang di pedalaman transmigrasi

Diana Indrawati adalah guru kelas III SDN 174/V Intan Jaya, Muara Papalik, Jambi.

Ia mengajar di sekolah yang berada di pedesaan transmigrasi.

Awalnya, Diana memiliki kendala mengenai siswanya yang sudah bisa membaca tetapi tidak mampu memahami apa yang sudah mereka baca.

Hal tersebut kemudian mendorong Diana untuk membuat buku besar atau disebutnya big book.

Big book dibuat untuk melatih siswa agar menyukai buku dan sekaligus memahami buku yang dibaca bersama-sama.

Big book merupakan buku berukuran besar.

Berisi cerita, dibuat dengan tulisan yang cukup besar dan disertai gambar yang menarik.

Diana sudah menghasilkan depalan buku, tiga di antaranya adalah big book.

Setiap dua kali dalam seminggu Diana membacakan big book yang ia buat pada siswa.

“Seminggu dua kali saya membacakan big book pada anak, cara membaca juga harus menarik perhatian siswa,” kata Diana dikutip dari Kompas.com.

Diana menerapkan langkah membaca bersama, kemudian mencocokkan prediksi siswa.

Lalu pada akhir sesi, guru meminta siswa untuk membuat akhir cerita sesuai kata-kata sendiri.

Dengan begitu siswa mampu memahami apa yang telah mereka baca, tidak hanya sebatas membaca.

2. Bertha Buadera, seorang guru honorer yang hanya digaji Rp 800 ribu

Bertha Baudera merupakan guru honorer yang mengajar di SD Filial 004 Samarinda Utara.

Sudah 10 tahun ia menjadi guru honorer dengan gaji yang hanya Rp 800 ribu.

Ia harus berjalan kaki setiap hari sejauh dua kilometer dari rumahnya di tengah hutan menuju sekolah.

Dikutip dari Kompas.com, saat jadi guru honor pertama kali, ia memperoleh gaji Rp 150 ribu per bulan.

Uang yang ia peroleh dari gaji sebagai guru honorer tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, yang terdiri dari suami dan seorang anak.

Untuk mencukupi kebutuhannya Bertha dan suami melakukan pekerjaan sampingan bertani dan berjualan.

“Biasa pulang sekolah saya jualan pisang, ubi, dan sayur-sayuran di pasar malam,” kata Bertha dikutip dari dari Kompas.com.

Selain gaji yang tidak cukup untuk hidup sebulan, Bertha juga mengeluhkan fasilitas sekolah yang hanya punya satu gedung dan beban kerja.

“Fasilitas kurang, kami mau praktik susah. Sementara di buku kurikulum menganjurkan banyak praktik,” ujar Bertha.

3. Maria Beta Nona Vin, guru honorer di pedalaman Flores tanpa listrik dan jaringan telepon

Maria Beta Nona Vin adalah guru honorer di SMPN 3 Waigete, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Selain hidup tanpa listrik dan jaringan telepon, guru di pedalam Flores ini hanya menerima gaji Rp 85 ribu per bulan.

Ia dan guru honorer lainnya hanya memperoleh gaji dari orangtua siswa, bahkan gajinya sering mandek hingga tiga bulan.

“Itu uang Rp 85 ribu juga kadang-kadang mandek sampai 3 bulan, itu uang kan dari orangtua siswa.”

“Jadi, kita tunggu kapan mereka bayar baru kita terima honor,” ujar Maria Beta Nova dikutip dari Kompas.com.

Saat uang gajinya mandek, dirinya mengandalkan ubi dari kebun yang ia rawat setiap pulang sekolah.

Setiap harinya, ia harus berjalan kaki sejauh enam kilometer untuk menempuh perjalanan dari rumahnya ke sekolah.

Meskipun keadaannya sangat memprihatinkan, dirinya mengaku tetap ingin bertahan demi mengabdi di SMPN 3 Waigete.

Dikutip dariĀ Kompas.com, Beti sapaan akrabnya, tinggal di rumah yang sangat sederhana, dengan atap alang-alang, dinding belahan bambu, dan lantai tanah.

Dikutip dari tribunnews.com berdasarkan rangkuman dari kompas.com

Editor : Erix Right


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *