Kedudukan Hukum Debt Collector Dalam Sebuah Kontrak Kredit

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Aksi kejar-kejaran antara masyarakat dengan kelompok debt collector sempat membuat heboh warga Agam, Sumatera Barat. Dalam kejadian nahas tersebut seorang dept collector dengan inisial M (51 tahun) harus meregang nyawa setelah dihakimi massa di Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) pada, Sabtu (30/3/2019).

Apa yang melatarbelakangi si juru sita dalam hal ini debt collector sehingga berani mengambil langkah merampas kendaraan si debitur, yang penuh dengan resiko dan juga bertaruhkan nyawa. Menjelaskan permasalahan tersebut, berikut ulasan yang covesia rangkum terkait dasar hukum antara kreditur dengan debitur yang melibatkan pihak ketiga.

Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 1169/KMK.01/1991 Tentang Kegiatan Sewa Guna Usaha, menyebut bahwa setiap transaksi sewa guna usaha wajib diikat dalam suatu perjanjian. Pada leasing, lazimnya juga diikuti dengan perjanjian jaminan fidusia. Perjanjian fidusia adalah perjanjian hutang piutang kreditor kepada debitor yang melibatkan penjaminan. Jaminan tersebut kedudukannya masih dalam penguasaan pemilik jaminan.

“Apabila transaksi tidak diaktakan notaris dan didaftarkan di kantor pendaftaran fidusia, maka secara hukum perjanjian fidusia tersebut tidak memiliki hak eksekutorial dan dapat dianggap sebagai hutang piutang biasa, sehingga perusahaan leasing tidak berwenang melakukan eksekusi, seperti penarikan motor (lihat Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia),” terang kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta yang dikutip covesia dari laman bantuanhukum.or.id, Selasa (02/04/2019).

Selain itu eksekusi yang dilakukan harus melalui putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Pihak leasing tidak berwenang melakukan eksekusi penarikan motor tersebut. Eksekusi haruslah dilakukan oleh badan penilai harga yang resmi atau Badan Pelelangan Umum. Jika terjadi penarikan motor oleh pihak leasing tanpa menunjukkan sertifikat jaminan fidusia, itu merupakan perbuatan melawan hukum.

Sejak 2012, Kementerian Keuangan telah menerbitkankan peraturan yang melarang leasing untuk menarik secara paksa kendaraan dari nasabah yang menunggak pembayaran kredit kendaraan (Peraturan Menteri Keuangan No.130/PMK.010/2012)

Tindakan leasing melalui debt collector yang mengambil secara paksa kendaraan berikut STNK dan kunci motor, dapat dikenai ancaman pidana. Tindakan tersebut termasuk kategori perampasan sebagaimana diatur dalam pasal 368 KUHP. Selain itu, tindakan tersebut termasuk pelanggaran terhadap hak konsumen (Pasal 4 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen)

Berdasarkan penjelasan di atas, jika memang perjanjian pinjaman dana yang dilakukan belum didaftarkan jaminan fidusia, atau Kantor Pendaftaran Fidusia belum menerbitkan dan menyerahkan sertifikat jaminan fidusia kepada perusahaan leasing, maka tindakanpenarikan paksa motor dan pembebanan biayanya adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Namun, terkait hutang yang kreditur miliki tetap harus dibayarkan sesuai dengan perjanjian.

Selanjutnya, langkah penyelesaian terhadap permasalahan tersebut dapat ditempuh diantaranya, (1) Mengupayakan mediasi sebagai upaya alternatif penyelesaian sengketa diluar pengadilan melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK); (2) Melaporkan tindak pidana perampasan kendaran ke pihak kepolisian; (3) Mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum ke Pengadilan Negeri terkait penarikan sepeda motor secara paksa.

Sebelumnya diberitakan M yang berprofesi Sebagai debt collector bersama 7 orang temannya mengambil paksa sebuah mobil pengangkut buah sawit jenis L 300 yang terparkir di Simpang padang Koto Gadang, Kecamatan Palembayan.

Melihat mobil diambil paksa Egi sang sopir langsung menghibungi teman temannya sehingga terjadilah kejar-kejaran hingga ke Kecamatan Tanjung Raya.

Guna menghentikan pelarian, warga menutup jalan dengan cara memalang jalan dengan sepeda motor, saat berhenti massa langsung menyerang M dan temannya, nahas, M meregang nyawa setelah sebelumnya sempat dibawa ke rumah sakit terdekat.

Klik disini untuk halaman asli


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *