Kabupaten Sumedang Perlu Memaksimalkan Pemanfaatan Lahan Lahan Kering dan Lahan Tidur

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Di Jawa Barat, pola pemanfaatan lahan selama ini dilakukan oleh para pemegang HPH/HGU. dan tidak sedikit pula masyarakat umum yang baik secara pribadi maupun berkelompok turut memanfaatkan lahan lahan yang belum tergarap. Hal ini turut berlaku pula di Kabupaten Sumedang.

Dari sebuah artikel, diketahui jenis penggunaan lahan yang dominan adalah hutan, sawah dan ladang. Dalam artikel yang ditulis oleh Khaerani cs tersebut, disebutkan bahwa perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Sumedang periode tahun 2000-2017 yang dominan terjadi adalah perubahan kawasan hutan, kebun campuran dan ladang menjadi sawah.

Hasil analisis tersebut  juga menyebutkan bahwa terdapat 25 jenis penyimpangan penggunaan lahan terhadap pola ruang dan yang paling dominan adalah penyimpangan menjadi sawah seluas 18,364 ha, ladang seluas 8,405 ha dan lahan terbangun seluas 7,741 ha. Kharirani cs menulis faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya penyimpangan penggunaan lahan adalah faktor penduduk dan permukiman, ketersediaan lahan, infrastruktur dan aksesibilitas serta kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Dampak dari penyimpangan tersebut adalah semakin sulitnya bagi para petani mendapatkan lahan lahan  yang berkualitas. Salah satu opsi untuk dapat terus menggarap adalah dengan mencari lahan  – lahan baru. Namun mencari lahan yang cocok untuk bertani memang tidak semudah yang dibayangkan.

Sebenarnya di kabupaten Sumedang ini masih cukup banyak daerah – daerah yang memiliki lahan yang bisa digunakan untuk bercocok tanam. Namun membuka lahan baru bukanlah perkara yang mudah. Wilayah yang belum tergarap tersebut umumnya berupa lahan – lahan tidur atau lahan kering nan tandus. Sebelum dapat diolah dan  dipergunakan, para petani tentu harus melakukan beberapa langkah penyesuaian. Dan jelas hal itu membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Ade Wiratna Nugraha, seorang pemerhati lingkungan hidup dan pengembang bibit untuk pertanian dan perkebunan. (Foto : dok.SUKON)

Salah seorang pemerhati lingkungan hidup, Ade Wiratna Nugraha yang akrab disapa Abah Al, berpendapat bahwa  sistem pemanfaatan lahan yang ada di Kabupaten Sumedang selama ini cenderung bersifat merusak dan tidak berkelanjutan. Hal ini menurutnya dikarenakan pemanfaatan yang dilakukan selama ini hanya terfokus kepada eksploitasi jangka pendek dan tidak memikirkan aspek keberlanjutan sumber daya di masa mendatang.

“Akibatnya, banyak lahan yang kemudian menjadi rusak dan perlu proses panjang untuk mengambalikannya ke keadaan semula”. ujarnya.

Saat di wawancarai oleh Sukon, Minggu (2/12) Abah Al mengatakan salah satu solusi agar sumedang bisa meningkatkan hasil dari sektor pertanian adalah dengan membuka lahan – lahan garapan yang baru.

“Di Sumedang khususnya, masih banyak lahan – lahan yang belum tergarap secara optimal, terutama lahan kering atau juga lahan – lahan tidur. Dan dampak dari pemanfaatan lahan – lahan tersebut tentu akan cukup untuk meningkatkan pendapatan daerah” kata Abah Al.

Sebagai seorang alumni dari fakultas kehutanan di sebuah universitas di Kabupaten Sumedang yang kini dalam program pembibitan tanaman, Abah Al sangat memahami permasalahan dalam penggarapan lingkungan ini. Dia mengingatkan agar hal tersebut dilakukan secara hati-hati dan melalui sebuah perencanaan yang sifatnya menyeluruh. Untuk itu ia berharap agar pemerintah Sumedang melakukan langkah – langkah yang baik dan terukur dalam pemanfaatan lahan lahan yang belum tergarap secara optimal ini.

Abah Al memandang bahwa Pemerintah Daerah dan masyarakat Sumedang perlu melihat lahan – lahan yang ‘menganggur’ tersebut bisa dijadikan sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Pemberdayaan lahan kering untuk pengembangan agribisnis bukan saja akan dapat membantu mengatasi masalah ekonomi dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang akan memberikan manfaat eksternal yang relatif besar di bidang penyehatan ekosistem, pemeliharaan sumberdaya alam dan pengembangan perspektif kegiatan ekonomi berwawasan kebangsaan secara lebih luas.” terangnya.

Lebih jauh Al menjelaskan beberapa hal dalam kaitan itu tersebut beberapa upaya yang diperlukan dalam rangka pemberdayaan lahan kering dan laha tidur.

“Yang pertama tentu saja pembangunan infrastruktur atau sarana dan prasarana di mana lahan kering itu terhampar. Yang kedua, penataan pola pemanfaatan lahan kering dengan pendekatan wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) yang dibangun sedemikian rupa sehingga sistem lingkungan dan sirkulasi air berlangsung secara baik. Dalam kaitan ini, pengembangan komoditas pertanian yang sesuai dengan tata guna lahan dan distribusi penguasaan lahan merupakan langkah yang paling penting.”jelasnya.

Lebih jauh Abah Al melanjutkan bahwa perancang kebijakan pembangunan di kalangan ekuin harus lebih memperhatikan pembangunan sektor ekonomi yang berlandaskan pada kekuatan sendiri.

“Untuk menjamin pembangunan ekonomi secara berkelanjutan maka pemerintah Sumedang perlu lebih mengarahkan investasinya ke wilayah lahan lahan yang masih belum tergarap. Dan kami berharap agar pemerintah bisa meningkatkan kerja sama dengan kelompok – kelompok pertanian dan juga perkebunan” pungkas Abah Al. (Erix Right).


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *