Intan Mulia Rahayu, Pencipta Alat Pendeteksi Pemutih Beras

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Beras berwarna putih belum tentu asli. Banyak yang diberi zat pemutih agar menarik. Intan Mulia Rahayu membuat inovasi alat pendeteksi pemutih beras. Sayang, alat ini belum diproduksi masal. 

IRAWAN WIBISONO, Solo

ROMAN bahagia terpancar dari perempuan berjilbab bernama Intan Mulia Rahayu. Gadis kelahiran Karanganyar 4 Mei 1996 ini berhasil merangkai alat pendeteksi zat pemutih dalam beras. Alat sederhana yang terbuat dari peralon yang dihubungkan dengan program khusus yang telah dibuatnya di komputer jinjing itu bekerja sangat cerdas.  

Satu gelas kecil beras dimasukkan ke peralon, kemudian alat yang diberi nama Scraper itu memunculkan angka-angka di layar digital. Semakin besar angka yang keluar artinya semakin besar pula kadar pemutih yang ada di beras tersebut.  Scraper adalah akronim dari Smart Chlorinated Rice Portable Detector. Alat ini bekerja berbasis microcontroller ATmega8535 dan light dependent resistor (LDR).

“Khlorin (pemutih) sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Khlorin dapat merusak sel-sel darah, mengganggu fungsi hati atau liver, dapat merusak sistem pernapasan bila penggunaan klorin mencapai 3-5 ppm dalam beras. Bahkan jika dosis lebih dari 30 ppm bisa menyebabkan kematian,” terang Intan, Senin (17/6).

Diakui alat yang dibuatnya cukup sederhana, namun untuk menjadikannya berfungsi sempurna butuh waktu 2,5 bulan. Bagian terlama dalam produksinya adalah pemrograman. Bagi mahasiswa Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) ini membuat program bukanlah sesuatu yang mudah. Dia pun menggandeng seorang temannya dari fakultas teknik untuk menyempurnakan program tersebut.

“Kami berharap alat inovasi kami dapat bermanfaat untuk masyarakat sebagai upaya pencegahan pengonsumsian beras berpemutih, dan juga semoga alat inovasi Scraper ini dapat membantu pemerintah dalam inspeksi penjual beras di pasar,” terang Intan.

Meski alat pendeteksi pemutih beras ini dapat membantu masyarakat agar berhati-hati dalam memilih beras, namun respons yang didapat ternyata berkebalikan. Masyarakat, khususnya ibu-ibu, cenderung mengabaikan alat yang diproduksi dengan uang Rp 350 ribu tersebut dan tetap memilih beras yang mengandung pemutih.

“Selama ini marak oknum penjual beras curang yang sengaja menambahkan pemutih atau khlorin pada beras yang ber-grade rendah supaya beras terlihat putih bersih seperti berkualitas super . Sayangnya itu lebih disukai konsumen, khususnya ibu-ibu,” terangnya.

Meski belum dipercaya, dia berharap Scraper dapat dimanfaatkan oleh ibu rumah tangga di Kota Solo dan sekitarnya. Jika memungkinkan alat tersebut akan diproduksi masal dan dijual ke pasar dengan harga Rp 500 ribu. 

Harga yang cukup berimbang dengan manfaat yang didapatkan. Sebenarnya alat sederhana yang dibuatnya ini sudah mendapat pengakuan oleh ilmuan di dunia Internasional. Terbukti dalam ajang kompetisi inovasi internasional Thailand Inventors Day 2018 di Bangkok International Trade and Exhibition Center (BITEC), Thailand yang digelar 02-06 Februari 2018 kemarin Scraper memperoleh medali emas. 

Dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh National Research Council of Thailand (NRCT) bekerjasama dengan International Federation of Inventor’s Associations (IFIA) dan World Invention Intellectual Properti Association (WIIPA) itu, Intan bersama Kevin Ikhwan Muhammad, mahasiswa Teknik Kimia UNS juga menyabet gelar special award dari WIPA. Thailand Inventors Day adalah ajang tahunan untuk mencari dan menampilkan potensi hasil penemuan dan inovasi dari inovator-inovator internasional.

Sedikitnya 24 negara ikut meramaikan kompetisi itu, yakni Kanada, China, Mesir, Hongkong, India, Indonesia, Iran, Jepang, Lebanon, Makau, Malaysia, Filipina, Polandia, Rumania, Rusia, Saudi Arabia, Singapura, Korea Selatan, Sri Langka, Taiwan, Uni Emirate Arab, Inggris, Vietnam dan Thailand.

Intan menyebut untuk mendapatkan medali emas tersebut dia harus mempersentasikan inovasinya di depan para juri yang secara bergantian mendatangi masing-masing booth para peserta lomba.

“Kita menyempurnakan Scraper itu sampai malam hari sebelum lomba. Takutnya pas dipresentasikan nggak hidup. Alhamdulillah ternyata bisa,” ujarnya. (*/bun) (rs/irw/per/JPR)

Sumber : radarsolo


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *