Ini Daftar Bank yang akan Merger di Tahun Depan, di Antaranya BTPN dan Danamon

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

JAKARTA – Tahun 2019 akan menjadi tahun konsolidasi bagi perbankan di Tanah Air. Sebab, banyak investor asing yang tengah melakukan proses akuisisi dan merger dengan perbankan di Indonesia.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan setidaknya akan ada tiga bank hasil merger di tahun 2019.

Bank tersebut antara lain, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI), kemudian PT Bank Danamon Indonesia Tbk dengan Bank Tokyo Mitshubishi UFJ (MUFG) bersama dengan PT Bank Nusa Parahyangan (BNP).

Disamping itu, rencana merger antara PT Bank Dinar Indonesia Tbk dan PT Bank Oke Indonesia juga dikabarkan bakal terealisasi pada tahun 2019 mendatang.

Khusus untuk BTPN dan SMBCI, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana menjelaskan saat ini kedua belah pihak tengah menunggu persetujuan dari pemegang saham dan investor dari Jepang.

“BTPN dan SMBCI akan terjadi tahun ini (persetujuan) kalau tidak ya meleset di tahun depan. Mereka (BTPN dan SMBCI) masih menunggu persetujuan OJK-nya Jepang (Japan FSE). MUFG yang akan minta persetujuan dengan Jepang,” ujarnya Rabu (19/12) pekan lalu.

Meski begitu, Heru menyebut bila sesuai target, surat persetujuan penggabungan BTPN dan SMBCI ini diproyeksi selesai tahun ini.

Sementara itu, dalam keterangan resminya BTPN membenarkan bahwa pihaknya sudah mendapatkan izin dari OJK untuk melaksanakan proses penggabungan usaha alias/merger.

Adapun, ringkasan rancangan penggabungan usaha kedua bank tersebut memang sebelumnya telah dipublikasikan pada 2 Agustus 2018, serta tambahan informasi pada 3 September 2018 dan 3 Oktober 2018.

Usai mengantongi persetujuan OJK, BTPN menegaskan masih ada beberapa tahapan proses administrasi yang harus dilalui pada otoritas-otoritas terkait. Setelah tahap ini terlewati, maka bank baru hasil merger BTPN dapat diperbolehkan beroperasi.

“Persetujuan ini merupakan salah satu tahapan penting dalam merampungkan proses penggabungan usaha BTPN dengan SMBCI. Kami berterima kasih atas dukungan OJK terhadap proses aksi korporasi ini,” tulis Direktur Utama BTPN Jerry Ng dalam keterangan yang diterima Kontan.co.id, Jumat (21/22).

Jerry menambahkan, nantinya bank hasil penggabungan akan beroperasi dengan nama PT Bank BTPN Tbk dan akan melayani segmen pasar yang lebih luas mulai dari mass market hingga korporasi.

BTPN juga menegaskan bahwa selama proses penggabungan usaha ini, pelayanan serta proses operasional bank tidak terganggu. “Kami yakin bahwa proses penggabungan yang kami lakukan dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan semakin meningkatkan kepercayaan nasabah di masa mendatang,” tuturnya.

Di lain pihak, President and CEO of SMBC Makoto Takashima mengatakan penggabungan usaha ini merupakan refleksi komitmen SMBC untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan bisnis nasabahnya di Indonesia. “Bank hasil penggabungan usaha dapat berkontribusi untuk menciptakan sektor keuangan yang kompetitif di Indonesia di tengah integrasi ekonomi di kawasan ASEAN,” katanya.

Direktur Utama SMBCI Kazuhisa Miyagawa mengatakan, dengan bisnis perbankan korporasi SMBCI yang menyediakan berbagai solusi kepada badan usaha milik negara (BUMN), perusahaan multinasional, perusahaan swasta nasional terkemuka, dan perusahaan Jepang, bank hasil penggabungan dapat menjadi bank yang lebih universal dengan menyediakan produk dan layanan yang lebih luas bagi nasabah.

BTPN dan SMBC merupakan anak usaha dari Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC). SMBC merupakan pemegang saham pengendali di BTPN dan SMBCI dengan porsi kepemilikan saat ini di masing-masing bank adalah sebesar 40% dan 98,48%.

Sementara itu, mengenai merger antara Danamon dan MUFG ditargetkan proses akuisisi akan selesai pada periode Maret-April 2019. “Setelah itu selesai, mereka targetkan merger dengan BNP,” tutur Heru.

OJK mengatakan pihaknya akan mendukung seluruh investor yang ingin mendorong pertumbuhan bank di Indonesia. Sebabnya, menurut Heru semakin besar kapasitas bank-bank di Indonesia maka kontribusinya terhadap ekonomi pun akan semakin banyak.

Ketika ditanyakan mengenai banyaknya bank asing yang mencaplok bank di Indonesia, Heru menyebut pihaknya tidak membatasi hal tersebut. Hanya saja, pihak regulator memang menginginkan investor lokal yang melakukan penguatan sektor perbankan.

“Tapi kalau Korea atau Jepang bawa duit banyak ke Indonesia kan bagus. Seperti BTPN dan SMBCI, itu berapa duit yang masuk ke Indonesia? besar sekali. Tentu itu akan bantu perekonomian,” jelasnya.

Nah, tahun depan juga dikabarkan akan ada beberapa aksi korporasi berupa akuisisi bank yang dilakukan oleh investor lokal dan asing.

Salah satunya, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang sejak awal tahun memang terang-terangan menyatakan berencana untuk mengakuisisi satu hingga dua bank kecil. Yang terbaru, PT Bank Permata Tbk juga dikabarkan sedang disorot oleh investor asal Jepang.

Untuk rencana BCA mengakuisisi bank kecil, OJK sudah mendapatkan informasi tersebut dari manajemen BCA. Namun, Heru enggan untuk berkomentar lebih lanjut mengenai rencana tersebut dikarenakan proses yang masih berlanjut.

Sementara untuk rumor Bank Permata akan dicaplok oleh investor Jepang, OJK mengaku belum mengetahui hal tersebut.

Adapun, Direktur Keuangan Bank Pertama Lea Kusumawijaya juga tak mau berbicara lebih detail terkait hal tersebut. “Kami bukan dalam posisi untuk berkomentar tentang spekulasi pasar seputar pemegang saham kami,” terangnya.

Klik disini untuk halaman asli


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *