Gelombang Tsunami Luluh Lantakan Banten dan Lampung

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Gelombang Tsunami yang menghantam wilayah Banten dan Lampung pada Sabtu malam (22/12) pada sekira pukul 21.20 telah meluluh lantakan wilayah pesisir pantai kabupaten Pandeglang dan sekitarnya.

Melansir dari CNNINDONESIA.COM, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan korban tewas tsunami yang menerjang Selat Sunda, Anyer dan Lampung, pada Sabtu (22/12) menjadi 43 orang dan masih bisa bertambah.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan korban luka hingga kini mencapai 584 orang sementara 2 orang lainnya dinyatakan hilang.

Dalam peristiwa tadi alam, sejumlah wilayah pantai di Selat Sunda, meliputi wilayah pantai Kabupaten Pandeglang, Serang dan Lampung Selatan dilanda gelombang tsunami yang membuat panik warga sekitar pantai.

BMKG telah memastikan bahwa gelombang tsunami itu bukan dipicu oleh gempa bumi. Namun, akibat longsor bawah laut karena pengaruh dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui akun Twitter-nya, Minggu (23/12/2018) mengungkap bahwa, sesaat sebelum terjadi tsunami, terdeteksi adanya aktivitas erupsi dari Gunung Anak Krakatau. Bahkan, imbas dari erupsi itu menyebabkan alat seismograf pendeteksi gempa sempat rusak.

Saat ini BMKG dan Badan Geologi masih melakukan kajian untuk memastikan penyebab tsunami dan kemungkinan susulannya. Untuk itu
masyarakat dihimbau tidak melakukan aktivitas di sekitar pantai.

Melalui cuitannya di Twitter, Sutopo mengatakan fenomena tsunami di Selat Sunda kemarin termasuk langka.

“Letusan Gunung Anak Krakatau juga tidak besar. Tremor menerus namun tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigakan. Tidak ada gempa yang memicu tsunami saat itu. Itulah sulitnya menentukan penyebab tsunami di awal kejadian,” kata Sutopo seperti dikutip dari CNNINDONESIA.COM.


Gelombang tinggi dan tsunami yang terjadi di Selat Sunda tadi malam turut membuyarkan sejumlah acara. Dikabarkan rombongan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), ikut menjadi korban terjangan tsunami, saat menggelar acara gathering di Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Peristiwa ini terjadi saat mereka mengundi doorprize, namun tiba-tiba ombak tsunami datang menyapu lokasi acara mereka dan beberapa orang lainnya. “Tiba-tiba ada suara gemuruh ombak dan kita lari untuk menyelamatkan diri masing-masing. Kita rombongan sebanyak 62 orang,” kata Edi Nurinda, Kepala Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Keolahragaan Nasional (PPITKON) Kemenpora, Minggu (23/12) seperti dikutip dari Merdeka.com.

Kabar duka juga datang dari grup band Seventeen yang sedang manggung di Pantai Carita. Beberapa personil band tersebut dikabarkan hilang terseret ombak tsunami tadi malam.

Kabar ini ditegaskan langsung oleh sang vokalis Ifan Seventeen, melalui unggahan videonya di Instagram hari ini, Minggu (23/12/2018). Ifan mengatakan bahwa selain rekan – rekannya, istrinya pun sampai sekarang belum ditemukan.

Dalam keterangan yang ditulisnya, Ifan meminta doa agar sang istri dan kru Seventeen yang hilang segera ditemukan dalam kondisi selamat serta sehat.

Ia juga meminta keikhlasan dan doa para warganet atas kepergian dua kru Seventeen, Bani dan Oki.

Minta doanya agar istri saya @dylan_sahara , trus mas @hermanseventeen @andi_seventeen sama @uje17_rukmanarustam cepet ktmu dalam keadaan selamat sehat walafiat.

BMKG peringati ada gelombang tinggi pada Sabtu pagi

Melansir dari Detik.com, sebelum terjadi tsunami, BMKG telah mencatat adanya gelombang air laut pada Sabtu (22/12) pukul 09.00 WIB. Kemudian pukul 21.03 WIB BMKG berdasarkan hasil koordinasi dengan Badan Geologi pukul 21.27 ada kenaikan muka air pantai.

“Tanggal 22 Desember pukul 09.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB, tim BMKG kebetulan berada di perairan Selat Sunda melakukan uji coba instrumen dan di situ terverifikasi bahwa terjadi hujan lebat dengan gelombang dan angin kencang,” kata Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono di Kantor BMKG, Jakarta Pusat, Minggu (23/12/2018). 

“Oleh karena itu tim kami kembali ke darat dan akhirnya masih di tanggal 22 Desember pukul 21.03 WIB, Badan Geoglogi mengumumkan terjadi erupsi lagi anak Gunung Krakatau. Kemudian 21.27 WIB Tidegauge badan informasi geospasial yang terekam oleh BMKG menunjukan adanya tiba-tiba ada kenaikan muka air pantai,” lanjut dia.

Gelombang tsunami diperkirakan mencapai 3 meter

BMKG menyatakan musibah yang terjadi di Anyer, Banten adalah gabungan dari gelombang tinggi dan tsunami. Tinggi gelombang air laut disebut mencapai 3 meter.

“BMKG sebelumnya memberikan warning ancaman tinggi gelombang Selat Sunda 2 meter, kalau ditambahkan setinggi 3 meter. Pada jam sama gelombang tsunami 0,9 meter, bisa disimpulkan sekitar 3 meter tentunya menyebabkan bagaimana tsunami masuk ke daratan,” jelas Dwikorita.

“Kami melakukan kordinasi segera dengan Badan Geologi dan akhirnya kami sepakat bahwa ini diduga, kenapa ini diduga, karena datanya belum cukup, waktu saat ini kami cek di lapangan masih gelap, jadi kami mencoba menggunakan alat, nanti Pak Kepala Badan Geologi masih membtuhkan data lagi, namun ada indikasi yang terjadi, memang pada hari yang sama ada gelombang tinggi ada bulan purnama tapi ada juga terjadi eruspi Anak Gunung Krakatu yang diduga itu mengakibatkan tsunami,” jelas dia seperti dikutip dari detik.com

Dikutip dari berbagai sumber.

Editor : Erix Right


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *