DLH Batam Harus Awasi Pembuangan Limbah B3 Dan Usaha Pemotongan Bukit

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Batam ( Suara Konsument ). Para pihak transporter ( pengangkut ) limbah Bahan, Berbahaya, Beracun ( B3 ) dari kawasan-kawasan industri ketempat pengumpulan sementara di Kabil, dimana selama ini tidak pernah di awasi oleh Dinas Lingkungan Hidup ( DLH ) Kota Batam.

Hal ini menimbulkan tanda tanya di kalangan masyarakat, apakah limbah-limbah yang diangkut itu benar-benar di tempatkan kepenampungan sementara di Kabil.

” Kami menduga mungkin tidak semuanya limbah-limbah golongan B3 yang diangkut oleh kalangan transporter dari kawasan industri penghasil ke tempat penampungan sementara di Kabil” ujar Syahrul pada media.

Dikatakannya limbah-limbah yang diangkut oleh pihak transporter itu diduga tidak seluruhnya ditempatkan di tempat penampungan sementara di Kabil.

” Limbah-limbah yang diangkut oleh pihak transporter dari kawasan industri penghasil diduga tidak seluruhnya ditempatkan oleh pihak transporter ketempat penampungan sementara di Kabil, mungkin sebagian limbah-limbah tadi dibuang kesembarang tempat, ini tentunya sangat membahayakan bagi lingkungan hidup Kota Batam dan masyarakat” tandasnya.

Selain adanya dugaan pembuangan limbah B3 disembarang tempat menurut Aril selaku tokoh masyarakat Batu Aji Batam menyoroti tentang pengumpulan oli-oli bekas, seperti disalah satu bengkel mobil, dikawasan Nagoya Batam, diduga pihak pengumpul tidak memiliki dokumentasi perizinan dari dinas terkait.

” Untuk itu Kami berharap kepada DLH Kota Batam agar segera turun kelapangan untuk mempertanyakan dokumentasi perizinannya ” ujar Aril.

Lanjut Aril kurangnya perhatian DLH bukan hanya terhadap kegiatan pengangkutan limbah’limbah B3 saja, tapi juga terhadap kegiatan usaha atas pemotongan-pemotongan bukit ( Cut and fill ) usaha itu kata Aril jelas-jelas telah merusak lingkungan tanah, sementara bukit yang di potong tempat tumbuhnya hutan-hutan yang dilindungi.

Malah lanjut Aril, tanah-tanah dari pemotongan bukit itu, oleh pihak perusahaan digunakan untuk menimbun lokasi-lokasi yang terkadang ditumbuhi hutan-hutan bakau, sementara pohon bakau adalah pohon yang di lindungi oleh pemerintah. belum lagi efek bagi manusia atas tanah-tanah yang diangkut dari pengerukan bukit-bukit itu, debunya akan berterbangan entah kemana.

“Kepada DLH diharapkan untuk segera mengawasi kegiatan tersebut, dengan adanya pehatian DLH hal ini tentunya akan dapat menjadikan lingkungan hidup di Kota Batam semakin baik dan bersih” tandas Aril.

Pemotongan bukit yang saat ini sedang berlangsung di Pungur, telah menjadikan kawasan yang dulunya hijau kini terlihat gersang dan tandus.

” Ijin untuk pengerukan bukit dan penebangan pohon-pohon semuanya sudah ada perizinannya dari BP dan Pemko Batam” ujar salah seorang pengurus perusahaan yang melakukan pemotongan bukit itu saat di wawancarai media ini, dengan buru-buru pergi tanpa menunjukkan dokumentasi perizinan atas kegiatan yang sedang mereka lakukan pada media ini.

Sampai berita ini diturunkan Kadis DLH tidak dapat dijumpai untuk di konfirmasi. ( Mus).


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *