Delapan Tahun Saluran Irigasi Yang Aliri Ratusan Hektar Sawah di Desa Sukatali Sumedang Dibiarkan Rusak

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sumedang, SUKON – Para petani di desa Sukatali Kecamatan Situraja Kabupaten Sumedang, sejak delapan tahun lalu ternyata sudah tidak mendapatkan air dari saluran irigasi.

Daerah yang paling parah terkena dampak dari rusaknya saluran irigasi ini adalah Desa Sukatali Kecamatan Situraja Kabupaten Sumedang. Tidak kurang dari 130 hektar sawah di wilayah ini menjadi lahan kering yang tidak bisa digunakan lagi untuk menanam padi. Kecuali pada saat datangnya musim hujan.


Kepala Desa Sukatali, Edi Sujana mengatakan bahwa kondisi tersebut sudah berlangsung selama delapan tahun. Ratusan hektare sawah petani yang sebelumnya berstatus sawah irigasi, beralih fungsi menjadi sawah nonirigasi atau tadah hujan.

Edi Sujana, Kepala Desa Sukatali Kabupaten Sumedang saat memberikan keterangan kepada Sukon (24/1)

” Sawah sawah yang ada di desa Sukatali ini bisa menghasilkan padi sebanyak 5 – 6 ton per hektar dalam sekali panen. Ini kan angka yang sangat besar, apalagi masyarakat disini sebagian besar merupakan petani” kata Edi Sujana saat ditemui oleh Sukon di kantornya Kamis (24/1) lalu.

“Dalam kondisi normal, setahun para petani bisa panen tiga kali. Jika dalam setahun minimal kita dua kali panen, maka sawah yang ada di desa Sukatali ini bisa menghasilkan padi sebanyak 1.560 ton per tahunnya” lanjut Kepala Desa yang baru dilantik beberapa bulan lalu ini .

Salah seorang pengurus BPD Desa Sukatali bernama Pepen (47), menerangkan bahwa penyebab dari terhambatnya air ke desa Sukatali ini karena ada beberapa titik yang urug atau tersumbat berbagai material.

Pepen ( kanan, kaos oranye ) bersama warga lainnya saat memantau bendung sentig di Rancapurut (24/1)

“Umumnya aliran air tersumbat tanah atau batu yang terbawa dari hulu ke hilir. Namun ada juga yang salurannya longsor. Kerusakan tersebut memanjang, yang bersumber sejak dari Blok Kabuyutan di desa Ganeas. Namun yang terbanyak ada di daerah hilir, antara lain di blok Cioray, Talang, Leuwi Keris dan blok Cibogo.” terang Pepen

“Dengan terhambatnya aliran di hulu dan hilir tersebut, praktis desa Sukatali tidak lagi mendapatkan air dari saluran irigasi yang bersumber dari sungai Cipeles ini. Akhirnya kami hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber pengairan” lanjut Pepen lagi.

“Namun dengan kondisi cuaca yang tidak menentu seperti sekarang, terus terang kami pun tidak bisa lagi mengandalkan datangnya hujan untuk mengolah sawah kami. Hujan sering tidak merata, kadang di barat hujan, namun di sebelah timur malah terang benderang,” imbuh Pepen sambil tertawa.

Pepen mengaku bahwa sebenarnya masyarakat sudah pernah berupaya mengakali saluran irigasi yang rusak tersebut, dengan memasang drum – drum plastik bekas untuk memperlancar aliran air yang dibeli melalui swadaya masyarakat.

“Namun, usaha kami tidak bisa berjalan maksimal. Hasilnya pun hanya dirasakan sementara saja,. Karena, perbaikan hanya menggunakan bahan – bahan dan peralatan yang tidak mendukung, maka tak lama saluran tersebut kembali rusak. Seharusnya, saluran yang urug atau tersumbat dikeruk dengan peralatan berat, kemudian dipasang gorong – gorong baru yang kemudian diperkuat beton cor,” paparnya.

Pepen menambahkan bahwa beberapa waktu lalu, para petani di desa Sukatali ini pernah ditawari bantuan alat – alat pertanian dari pemerintah. Namun langsung ditolak karena memang tidak akan bisa digunakan jika sawahnya tidak bisa ditanami padi.

Sebagai kepala desa, Edi Sujana berharap agar pemerintah kabupaten Sumedang segera memperbaiki saluran irigasi yang mengairi ratusan hektar sawah di daerahnya tersebut.

“Bila melihat secara kuantitas, angka ribuan ton padi yang dihasilkan dari sawah di desa kami ini tidak bisa dianggap kecil. Untuk itu saya berharap agar pihak pihak terkait segera turun tangan untuk memperbaiki saluran irigasi ini.” pungkasnya.

Salah seorang calon legislatif, Raden Erik Munggarawan menyatakan bahwa dirinya sudah mendapatkan informasi tentang masalah irigasi ini.

“Berdasarkan informasi dari pihak desa, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadi terhentinya aliran irigasi ke desa Sukatali ini. Antara lain disebabkan banyaknya jaringan irigasi teknis yang telah lama rusak dan belum ditangani hingga sekarang.

“Saya pikir, ada baiknya agar pemerintah kabupaten Sumedang segera turun langsung untuk melihat kondisi jaringan irigasi yang sudah lama rusak dan belum tertangani ini.” kata Raden Erik

“Kita tidak perlu berdebat tentang siapa yang berwenang dalam perbaikan saluran irigasi ini. Karena pada dasarnya, baik kabupaten, provinsi, maupun pusat sama sama memiliki kewajiban dalam pemeliharaan sarana sektor pertanian.” ujarnya lagi

“Dalam pasal 18 Peraturan Pemerintah nomor 20 Tahun 2006 tentang Irigasi, jelas disebutkan bahwa pengelolaan sistem irigasi primer dan sekunder pada daerah irigasi dalam satu kabupaten/kota yang luasnya kurang dari 1.000 ha merupakan wewenang dan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota.” terangnya.

Sementara Lis Dedeh calon anggota legislatif DPR RI dari partai Demokrat, menjanjikan akan segera menyampaikan permasalahan ini kepada pemerintah Kabupaten Sumedang.

“Saya akan segera menyampaikan kepada bapak bupati atau wakilnya agar segera memberikan respon atas permohonan masyarakat di desa Sukatali ini.” kata Lis Dedeh .

“Do’akan saja ya.” tutupnya

Reporter : Usep Jamaludin



Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *