Catat! Debt Colektor Tidak Punya Wewenang Memberhentikan Kendaraan di Jalan

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Pontianak – Menanggapi adanya dugaan pengambilan paksa satu unit mobil pickup KB 8510 MC milik Dedi Sutomo di Jl. Ahmad Yani II, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat pada Rabu, (28/11/2018) sekitar pukul 20.00 wib
Direktur Lalulintas Polda Daerah Kalimantan Barat Kombes Pol Nanang Masbudi ketika dihubungi media ini via WhatsApp Mengatakan, Debt Colektor tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikan kendaraan di Jalan, sesuai prosedur dan aturan yang memiliki kewenangan itu hanya aparat penegak hukum.

“Kalau warga merasa keberatan atas tindakan Debt Colektor tersebut bisa mengadukan ke pihak kepolisian. Selanjutnya pelajari kembali perjanjian akad kridit kedua belah pihak, karena ada Fidusia,”ujarnya.

Sebelumnya telah diberitakan;

Debt collector alias penagih utang kerap menjadi momok yang meresahkan para pemilik kendaraan, tak terkecuali roda dua dan roda empat. Alasannya, mereka tak segan melakukan penarikan paksa unit sepeda motor yang tercantum di buku catatannya meski saat kita tengah melaju di jalan raya. Mirisnya, mereka juga tak segan melakukan tindakan diluar aturan dan prosedur.

Aksi yang meresahkan yang dilakukan oleh oknum Debt Colektor Main tarik kendaraan di Jalan kali ini dialami oleh warga Desa Rasau Jaya Dedi Sutomo, mobil yang di kridit sudah beberapa bulan ditarik paksa di Jalan Ahmad Yani II, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya pada Rabu, (28/11/2018) sekitar pukul 21.30 Wib.

Penarikan mobil secara paksa itu berawal Dedi Sutomo bersama dengan tiga temannya minum kopi di Simpang Polda dan ketika hendak pulang ke rumah sekitar pukul 20.00 Wib dihentikan di Jalan oleh orang tidak dikenal sebanyak empat orang yang mengaku petugas Fainance dan meminta agar mobil diserahkan kepada nya dengan dalih mobil sudah dua bulan telat diangsur. Namun, permintaan Debt Colektor oleh Dedi ditolak dan mengajak orang yang mengaku petugas Fainance untuk ke rumah.

Namun permintaan Dedi oleh Debt Colektor ditolak dan Debt Colektor mengambil kunci yang dipegang oleh rekannya dan membawa mobil tersebut. Sementara kami bertiga ditinggalkan di Jalan,”ujarnya.

Atas kejadian tersebut Dedi mengaku diperlakukan tidak menyenangkan oleh oknum Debt Colektor dan sudah membuat pengaduan ke Polda Kalbar bidang Ditreskrimum untuk meminta perlindungan hukum dan keadilan.Dedi berharap pihak kepolisian bisa memproses sesuai prosedur dan Undang Undang yang berlaku supaya ada efek jera kepada pelaku.

Terpisah pihak Fainance yakni Ishak ketika dikonfirmasi oleh media ini mengatakan, pihaknya melakukan pengamanan unit mobil yang dikridit oleh debitur karena sudah menunggak dua bulan dan sebelumnya pihak kolektor sudah berusaha menagih kerumah tapi belum ada pembayaran. Sementara dasar penarikan karena adanya perjanjian Fidusia,”ungkapnya.

Terkait permasalahan pengambilan paksa mobil di jalan oleh oknum Debt Colektor dan oleh konsumen di adukan ke pihak kepolisian Ishak mempersilahkan, karena itu hak setiap warga negara dan perlu di ingat kalau Fainance tempatnya ia bekerja itu merupakan perusahaan BUMN yang asetnya ratusan miliaran jadi jangan sembarangan.

Setelah wawancara selesai media ini coba mengambil gambar Ishak untuk dokumentasi, namun Ishak marah dan Mengatakan foto dia sudah banyak di Polda Kalbar. Foto saya banyak di Polda karena ada beberapa kasus tapi saya aman saja karena saya tidak bersalah, saya ini dulu orang jahat tapi sekarang sudah berubah jadi orang baik,”pungkasnya.

Sementara menurut praktisi Hukum, Aksi pengambilan kendaraan secara paksa atau perampasan yang dilakukan oleh oknum Debt Colektor di Jalan tidak di perbolehkan dan nasabah bisa melaporkan ke Kepolisian karena itu melanggar Pasal 368, Pasal 365 KUHP Ayat 2, 3, dan 4 juncto Pasal 335,”kata pangacara senior Kaswan kepada media ini Jumat,(01/12/2018).

Lebih lanjut, Kaswan Mengatakan, masalah kridit kendaraan mobil antara Fainance dan nasabah itu perdata dan masalah perdata bisa dilakukan eksekusi setelah ada keputusan dari pengadilan,”ujarnya.

Terpisah aktivis LPPN-RI Provinsi Kalimantan Barat Sarmaji Jk meminta kepada pihak kepolisian Polda Kalbar menindak tegas kepada para pelaku yang melakukan perampasan kendaraan milik nasabah di Jalan. Karena aksi perampasan kendaraan di Jalan menurutnya aksi kriminal dan melanggar hukum.

“Oknum Debt Colektor yang melakukan perampasan di Jalan harus segera ditangkap, apalagi kalau korban sudah mengadukan masalah tersebut ke kepolisian. Pihak kepolisian secepatnya harus menindaklanjuti dan menangkap Debt Colektor tersebut,”pungkasnya.

(Dri)


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *