BPPT Ingatkan Ancaman Tsunami 57 Meter di Banten

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Perekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko mengingatkan adanya potensi tsunami besar yang ‘menghantui’ Kabupaten Pandeglang, Banten.

“Kalau misalnya, moga-moga tidak, tapi potensi itu tetap ada yang di megathrust itu kemudian terjadi, ya toh berarti di Pandeglang bisa lebih dari 20 meter, apakah mereka (masyarakat) siap?” kata Widjo saat dihubungi IDN Times, Rabu (26/12).

Widjo pernah memaparkan kajiannya akan potensi tsunami besar setinggi 57 meter dalam kegiatan seminar ilmiah BMKG yang berjudul ‘Sumber-sumber Gempabumi dan Potensi Tsunami di Jawa Bagian Barat’ pada 3 April 2018.

1. Tsunami Banten yang terjadi lebih kecil dari model yang ia kaji

ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

Kabid Mitigasi Bencana Persatuan Insinyur Indonesia (PII) ini mengatakan, meski sumber gempa berbeda dari yang analisis pada April lalu, namun dampak secara umum yakni tsunami sama.

“Padahal ini sumber dari Krakatau yang hitungannya 1/5 bahkan 1/10 kecilnya daripada yang saya modelkan dulu,” katanya.

2. Ia tidak menyangka jumlah korban akan setinggi ini dari tsunami setinggi 8 meter

Oji Paoji/WWF Indonesia

Widjo mengaku terkejut dengan jumlah korban tsunami Banten. Ia kembali mempertanyakan apakah masyarakat dan pemerintah siap menghadapi potensi tsunami yang lebih besar.

“Apalagi kalau misalkan di bagian barat itu sekitar 10-15 meter. Bukan yang di bawah, kalo di bawah itu ada yang 50 meter memang. Di Serang, Banten juga kira-kira sekian. Di sana banyak industri petrokimia dan lain-lain, apakah mereka sudah memikirkan itu?” jelasnya.

Widjo menyatakan potensi tsunami besar di Banten belum bisa lepas, namun untuk ketinggian ia tidak bisa menyebut pasti meski adanya potensi setinggi 57 meter yang pernah ia paparkan.

“Kalau yang sumber megathrust tetap potensi karena belum lepas ini. Tetap ada kalau itu. Tingginya tergantung berapa. Gak ada kaitan langsung dengan yang sekarang terjadi. Yang sekarang kan (Gunung) Anak Krakataunya, lebih ke longsor,” ujar Widjo.

3. Saat ini Indonesia masih belum siap bencana tsunami

IDN Times/Panji Galih Aksoro

Pria kelahiran 1967 ini mengatakan Indonesia masih belum siap dengan bencana tsunami. Ia merujuk pada video band Seventeen yang viral di media sosial.

“Mereka lagi enjoy, tiba-tiba muncul (tsunami). Gak ada peringatan sama sekali, kita gak siap. Kalau ada ngomong kita siap, gak ada cerita, keliru,” katanya.

Ia juga mengakui saat ini Indonesia tidak punya peringatan tsunami non-tektonik, ia pun menolak jika BMKG menjadi kambing hitam apabila terjadi tsunami.

“Sekarang, peringatan dini yang gak ada. Emang gak ada. Memang peringatan dini non-tektonik kita gak ada. Jadi BMKG gak bisa disalahin,” ucapnya.

“Makanya perlu dibenerin peringatan dini supaya bisa melakukan peringatan dini non-tektonik,” imbuh Widjo.

4. Hasil kajian Widjo bulan April lalu tentang potensi tsunami 57 meter

Berbagai sumber

Dalam presentasinya April lalu, Widjo menyebut potensi tsunami setinggi 57 meter terjadi di Kabupaten Pandeglang, Banten. Ia mengungkap potensi gempa besar di daerah subduksi di selatan Jawa dan Selat Sunda menjadi pemicunya.

“Karena di buku gempa 2017 (‘Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia’ tahun 2017 yang disusun Kementerian PUPR) dicantumkan ada (gempa) mulai dari 8,5 hingga 9 magnitude. Saya hanya memakai sumber itu,” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, peta tersebut menggambarkan tiga potensi gempa bumi megathrust di lokasi dekat dengan wilayah kajian, yang terdiri atas Enggano (M 8,4), Selat Sunda (M 8,7), dan Jawa Barat-Tengah (M 8,7). Hasil kajiannya menyebut ada beberapa daerah yang berpotensi terdampak tsunami, termasuk Jakarta.

“Saya pakai ketiganya tapi saya konsentrasi di Selat Sunda. Waktu itu menimbulkan tsunami cukup tinggi. Muali dari Bekasi 3 meter, Jakarta 3 sampai 5 meter, terus makin besar. Lalu di Pandeglang sisi Selatan, bukan yang di Tanjung Lesung, yang menghadap Samudera Hindia itu ada yang 57 meter,” paparnya kepada IDN Times.

5. Hasil kajian yang sempat membuat heboh

Oji Paoji/WWF Indonesia

Widjo mengatakan tidak ada masalah pada kajian itu, namun saat itu banyak media yang hadir dan ada kesalahan. Ia pun sempat dipanggil pihak kepolisian untuk diminta klarifikasi.

“Kemudian dikutip oleh media, jadi heboh. Tapi sudah selesai, gak masalah. Waktu itu sempat ditelepon (kepolisian), klarifikasi karena mereka banyak terima laporan ada warga resah,” kata Widjo.Klik disini untuk halaman asli


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *