Alihkan Cessie Tanpa Persetujuan Debitur, Bank BTN Bandung Akan Digugat

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Logo Bank BTN (foto:inilah.com)

Bandung, Medkom – Abdul Rachman Hassar merasa geram lantaran rumah nya yang berada di Komplek Tamansari Manglayang Regency Cinunuk Kabupaten Bandung telah dialihkan dokumen kepemilikan dan penagihan utangnya kepada pihak lain.

Menurut Abdul Rachman, dokumen kredit dan sertifikat rumah yang dimilikinya telah berpindah tangan secara sepihak tanpa persetujuan dari dirinya sebagai debitur Bank BTN Cabang Bandung.

“Saya memang memiliki tunggakan cicilan ke Bank BTN. Namun sejak setahun lalu, saya sudah berusaha untuk melunasi hutang tersebut.” kata Abdul Rachman

“Dengan beralihnya dokumen kepemilikan kepada pihak lain, artinya Bank BTN telah mengalihkan penguasaan dokumen kepemilikan rumah saya kepada pihak lain tanpa ada persetujuan dari saya” keluh Abdul Rachman

Abdul Rachman menerangkan bahwa dirinya mendapatkan surat dari Bank BTN yang menyatakan bahwa penagihan hutangnya kepada Bank BTN telah beralih kepada PT Bangun Properti Nusantara (PT.BPN). Dengan beralihnya penagihan hutang kepada PT.BPN tersebut, dokumen yang menyangkut rumah yang beralamatkan di blok C-2 no.48 Perumahan Tamansari Manglayang Regency Cinunuk Bandung itu kini telah dikuasai dan dimiliki oleh PT.BPN.

“Bahkan kemudian datang surat penagihan dari pihak PT.BPN yang meminta agar saya segera membayar sebesar 240 juta rupiah kepada mereka. Gila!! Pokok hutang saya kan tidak sebesar itu.” sergah abdul Rachman.

Abdul Rachman menerangkan bahwa dirinya melalui Lembaga Perlindungan Konsumen Nasional Indonesia ( LPKNI ) Jawa Barat telah melakukan negosiasi dengan Bank BTN Bandung di Jalan Jawa untuk memohon keringanan pelunasan.

“Sejak tahun 2018 lalu, saya melalui LPKNI Jawa Barat telah melakukan negosiasi agar pokok bunga dan denda dikurangi” ujar Abdul Rachman.

“Kami pun pernah memberikan penawaran senilai 52 juta rupiah kepada bank BTN sebagai pelunasan dalam bentuk Cessie. Namun uang tersebut ditolak oleh pihak Bank BTN Bandung di Jalan Jawa dengan alasan sertifikatnya masih atas nama developer” lanjutnya.

Kepala Direktorat Pengaduan dan Pelayanan Konsumen LPKNI Jabar, Raden Erik Munggarawan menyatakan bahwa dalam hal ini pihaknya telah menjalin komunikasi dengan Bank BTN sejak pertengahan tahun 2018 lalu.

“Pada sekira bulan Juli 2018 lalu, kami telah berusaha melakukan koordinasi dengan pihak Bank BTN Bandung Timur untuk menyelesaikan masalah kredit ini. Saat itu kami mengajukan permohonan pelunasan dengan cara cessie (pengalihan penagihan hutang). Kemudian kami diarahkan ke BTN Cabang di Jalan Jawa” kata Erik kepada Sukon

Namun menurut Erik, permohonan sempat ditolak karena nama dalam sertifikat rumah tersebut belum beralih nama dari developer ke Abdul Rachman.

“Kemudian pada bulan Maret 2019, kepada seorang petugas bernama Cenda, melalui WA kami kembali mencoba menanyakan kembali ke Bank BTN untuk status rumah tersebut. Pak Cenda menyarankan kami datang menemui petugas di BTN jalan Jawa. Petugas disana menyatakan statusnya belum berubah masih atas nama developer.” ujar Erik

“Dan terakhir pada tanggal 25 Juni 2019 lalu, kembali menemui pihak Bank BTN untuk menanyakan kembali status peralihan balik nama dari developer ke Abdul Rachman. Pihak Bank BTN menyatakan bahwa statusnya masih tetap belum berubah.” lanjut Erik

“Tapi oleh petugas yang bernama ibu Reina, kami disarankan agar membuat surat penawaran pelunasan. Pada tanggal 30 Juni 2019, kami berencana memberikan surat penawaran resmi kepada Bank BTN. Namun sebelumnya foto surat penawaran tersebut sudah kami sampaikan melalui WA kepada pak Cenda.” lanjutnya lagi.

Namun ternyata, bukan jawaban penawaran yang diterima oleh Abdul Rachman, melainkan surat pemberitahuan dari Bank BTN yang menyatakan bahwa rumah tersebut telah dialihkan ke pihak lain tanpa persetujuan darinya.

“Tanggal 11 Juli saya mendapatkan surat pemberitahuan dari Bank BTN bahwa rumah saya telah dialihkan dokumen penagihannya ke PT.BPN. Dan kemudian pada tanggal 16 Juli 2019, saya juga mendapat surat tagihan dari PT.BPN agar saya segera membayar sebesar 240 juta rupiah kepada mereka.” terang Abdul Rachman

Abdul Rachman pun merasa sangat dirugikan dengan adanya keputusan secara sepihak dari Bank BTN ini.

“Saya akan gugat Bank BTN ke Pengadilan.” tegas Abdul Rachman

LPKNI Jawa Barat pun mengaku telah melayangkan somasi kepada Bank BTN dan PT.BPN.

“Kami telah melayangkan somasi ke pihak Bank BTN dan PT.BPN. Intinya kami meminta penjelasan dari mereka kenapa objek yang masih dalam tahap negosiasi kok seenaknya saja dialihkan ke pihak lain” kata Raden Erik.

“Kami tentu sangat menyayangkan bahwa proses Cessie ini dilakukan secara sepihak oleh Bank BTN tanpa ada musyawarah terlebih dahulu dengan kami dan yang bersangkutan. Padahal saat itu kami sedang menunggu kabar proses balik nama sertifikat dari developer ke Abdul Rachman” lanjutnya.

“Dari surat yang dikirimkan oleh PT.BPN kepada Abdul Rachman kita bisa melihat bahwa pokok hutang jumlahnya tidak lebih dari 40 juta. Kalau mereka mau bicara sharing bunga, ok lah kita siap bernegosiasi. Tapi tentu saja angkanya harus rasional. Jangan sampai denda juga dibebankan kepada klien kami dong. Apalagi mereka juga pasti sudah mendapatkan diskon bunga” terang Raden Erik

“Kan Bank BTN juga mungkin sudah menghilangkan tagihan dendanya, jadi kenapa sekarang harus ditagihkan lagi kepada konsumen?” tanya Raden Erik

“Kalau masalah ini tidak ada titik temu, mungkin kami akan segera melayangkan gugatan” pungkas Raden Erik

Benturan dalam proses cessie atau pengalihan penagihan piutang ini ternyata bukan pertama kali terjadi. Pada bulan Desember 2018 lalu, jayantaranews.com memberitakan tentang kasus peralihan dokumen kepemilikan ini.

Saat itu, Tb Budi R Sanusi Ir, selaku konsumen (debitur) Bank BTN Bandung melakukan protes karena rumah yang dimilikinya telah berpindah tangan sepihak tanpa pemberitahuan oleh Bank BTN, proses Cessie pengalihan pemilik sepihak tanpa ada pemberitahuan dan musyawarah oleh yang bersangkutan.

Sebagaimana dilansir oleh jayantaranews.com, saat itu diduga pihak Bank BTN secara sepihak telah melakukan pengalihan pemilik kepada Fajar (pegawai Bank BTN) di bagian dokumen, dan pihak pemilik rumah tidak pernah diberitahukan pihak Bank BTN, dengan alasan target dan pengamanan asset.

Saat dikonfirmasi langsung, Rabu (26-12-18) pukul: 12:45 WIB oleh JayantaraNews.com, Bank BTN yang berlokasi di Jalan Jawa No 7, Babakan Ciamis, Sumur Bandung, Kota Bandung, Achmad Kurnia bagian permasalahan di lt 4, menuturkan,

” Yah, biasanya cessie atau lelang itu harus ada pemberitahuan kepada yang bersangkutan,” jelasnya.

” Masalah cessie juga tidak bisa begitu saja, harus pihak yang bersangkutan setuju, bila tidak yah dikembalikan lagi. Adapun biaya yang harus diselesaikan disesuaikan, kan bisa dimohon untuk pengurangan total dari penyelesaian. Artinya tidak baku, tapi coba saya tanyakan dulu Fajar itu siapa, karena tergolong baru saya di sini, yang lain sudah dipindahkan,” ucap Achmad Kurnia sebagaimana dikutip dari JayantaraNews.com .

Fajar sendiri menjelaskan,” Masalah cessie di BTN mah umum dan sudah biasa, pegawai BTN juga bisa, toh itu buat target dan pengamanan asset, dan pihak kedua tidak berhak tahu. Adapun transaksi kwitansi dari pihak pertama, itu bisa saja dipalsukan, yah saat ini saya yang punya, dan urusannya dengan saya, bila pemberitahuan atau SOP itu Pak Ahmad saja, saya tidak tahu, lelang dan cessie sudah biasa begitu di BTN mah,” ungkapnya.

Ahmad Kurnia menambahkan,” Masalah ini akan coba dibicarakan kembali, tapi bagusnya urusannya sama Fajar saja, dan bukan BTN, masalah harga dari 17 juta sampai 180 juta yang diminta Fajar, bahkan mau menjualnya ratusan juta, itu dibicarakan saja, yah nanti saya bicarakan dengan atasan saya,” imbuhnya sebagaimana dikutip dari JayantaraNews.com

Berikut di bawah ini penjelasan singkat mengenai cessie dan subrogasi.

Pengertian Cessie

Cessie merupakan pengalihan hak atas kebendaan bergerak tak berwujud (intangible goods) yang biasanya berupa piutang atas nama kepada pihak ketiga, dimana seseorang menjual hak tagihnya kepada orang lain. Berikut ini pengertian cessiemenurut beberapa versi sebagaimana dikutip dari artikel di hukumonline .com:

–   Cessie menurut KUHPerdata

KUHPerdata tidak mengenal istilah cessie, tetapi dalam Pasal 613 ayat [1] Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUH Perdata”) disebutkan bahwa “penyerahan akan piutang-piutang atas nama dan kebendaan tak bertubuh lainnya, dilakukan dengan jalan membuat sebuah akta otentik atau akta di bawah tangan, dengan mana hak-hak atas kebendaan itu dilimpahkan kepada orang lain. Dari hal tersebut dapat dipelajari bahwa yang diatur dalam Pasal 613 ayat [1] adalah penyerahan tagihan atas nama dan benda-benda tak bertubuh lainnya.

Pada prinsipnya, cessie adalah suatu cara penyerahan untuk memperoleh hak milik sebagai tindaklanjut dari peristiwa perdata. Peristiwa perdata itulah yang dimaksud dengan underlaying transaksi dari cessie tersebut.

Jadi cessie wajib didahului oleh peristiwa perdata yakni jual beli, tukar menukar atau hibah. Obyek cessie adalah piutang-piutang atas nama dan kebendaaan tak bertubuh lainnya.

Reporter : Usep Jamaludin


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *