Banyak Yang Mengaku Raja, Apakah Termasuk Gangguan Kejiwaan?

Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sumedang, medkom.id – Fenomena munculnya kerajaan, kekaisaran, atau kesultanan pada awal tahun 2020 ini banyak menyita perhatian masyarakat Indonesia. Tanpa terdeteksi, mendadak saja terungkap banyak kerajaan – kerajaan berdiri di berbagai daerah di Indonesia.

Banyak orang yang secara terang – terangan mengaku sebagai pemimpin dari beragam kerajaan baru ini. Dan edan nya, kerajaan-kerajaan ini ternyata sudah memiliki banyak pengikut. Sebenarnya ada fenomena apa sih di balik semua ini?

Seperti diketahui, sejumlah kerajaan baru bermunculan di Tanah Air, dalam beberapa minggu terakhir ini. Sebut saja yang menamakan diri sebagai Kesultanan Selacao, Keraton Djipang di Blora, Keraton Agung Sejagat di Purworejo. Dan yang paling fenomenal tentu saja Sunda Empire di Bandung Jawa Barat.

Sontak saja kemunculan para ‘raja dadakan’ ini memicu berbagai kontroversi diantara semua kalangan. Ada yang mengatakan bahwa ini merupakan pengalihan isu dari berbagai krisis yang tengah menerpa ekonomi dan politik Indonesia. Sebagian lain ada yang berpendapat bahwa menjamurnya kerajaan – kerajaan ini karena masyarakat sudah tidak percaya kepada pemerintah, sehingga ada yang meluapkan kekecewaan mereka dengan membentuk ‘kerajaan’ dengan sistem pemerintahan sendiri.

Rangga Sasana, Pejabat Sunda Empire. Foto Istimewa

Yang paling menarik perhatian publik adalah berbagai statement nyeleneh yang disampaikan oleh salah seorang petinggi kekaisaran sunda atau Sunda Empire bernama Raden Rangga atau HRH Rangga alias Rangga Sasana.

Rangga Sasana yang mengaku sebagai Sekretaris Jenderal dari Sunda Empire mengemukakan berbagai pernyataan yang banyak mengundang reaksi publik.

Umpamanya tentang klaim bahwa PBB dan NATO atau Pentagon yang menurut dia didirikan di Bandung. Kemudian ia juga mememerintahkan negara – negara di seluruh dunia harus daftar ulang agar tidak terjadi kiamat. Rangga juga menyampaikan pengakuan Bill Gates dan Jack Ma di klaim bergabung Sunda Empire.

Yang paling bikin tepok jidat adalah pernyataannya tentang Sunda Empire yang bisa menghentikan perang nuklir, dan paparan lainnya yang bikin netizen ngakak.

Sekalipun banyak pengakuannya banyak ditentang dan ditertawakan, bahkan di cap sebagai orang gila, nyatanya ‘Sang jenderal’ cuek saja. Begitu dengan kolega nya yang lain di organisasi Sunda Empire.

Dalam beberapa kesempatan wawancara dengan berbagai media, Rangga begitu lugas berbicara membeberkan apa dan bagaimana itu Sunda Empire. Seolah apa yang dikatakannya itu hal yang benar benar nyata terjadi.

Lalu benarkah keyakinan para raja tersebut. Penulis tidak pernah menemukan fakta yang bisa menguatkan berbagai klaim dari para raja dadakan tersebut. Namun penulis lebih tertarik dengan pendapat dari ahli psikologis tentang fenomena yang menghebohkan tersebut.

Pendapat Ahli Kejiwaan

Ilustrasi Delusi. Foto ; Istimewa

Dikutip dari detik.com Seorang ahli kejiwaan dr Lahargo Kembaren, SpKJ, dari RSJ Marzoeki Mahdi, Bogor, menyebut seseorang yang gemar mengaku punya jabatan tinggi dan hebat adalah gejala dari gangguan kejiwaan.

“Berita tentang adanya orang yang merasa dirinya memiliki kehebatan, kedudukan, jabatan hebat tertentu padahal kenyataannya tidak demikian, mengarah pada gejala dari gangguan psikosis,” katanya seperti dikutip dari detikcom.

Menurutnya, yang dialami orang seperti Rangga Sasana ini merupakan gangguan jiwa Delusi yang gejalanya ditandai dengan ketidakmampuan seseorang membedakan mana yang nyata atau tidak atau kesulitan membedakan khayalan dan realita.

Apakah Gangguan Delusi Itu?

Dalam sebuah artikel yang redaksi sadur dari alodokter.com , disebutkan Delusi adalah salah satu jenis gangguan mental serius yang dikenal dengan istilah psikosis.

Psikosis ditandai dengan ketidaksinambungan antara pemikiran, imajinasi, dan emosi, dengan realitas yang sebenarnya. Orang yang mengalami delusi seringkali memiliki pengalaman yang jauh dari kenyataan.

Penderita gangguan delusi ditenggarai sering meyakini hal-hal yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Walau sudah terbukti bahwa apa yang diyakini penderita berbeda dengan kenyataan, penderita tetap berpegang teguh pada pemikirannya.

Penyebab dan Jenis Gangguan Delusi

Penyebab gangguan delusi belum diketahui secara pasti, namun ada beragam faktor pendorong, antara lain faktor keturunan atau genetik, biologis, lingkungan, serta psikologis. Ada kecenderungan bahwa gangguan delusi dapat terjadi pada orang yang memiliki riwayat gangguan delusi atau skizofrenia di dalam keluarga.

Beberapa faktor yang bisa memicu terjadinya delusi, antara lain stres, pergaulan, doktrin keilmuan yang salah, penyalahgunaan obat-obatan, mengonsumsi minuman beralkohol berlebihan atau fungsi otak tidak normal, seperti pada penderita penyakit Parkinson, penyakit Huntington, demensia, stroke, serta kelainan kromosom.

Menurut ahli kejiwaan, gangguan delusi yang diperkirakan diderita orang yang memiliki khayalan tentang kekuasaan adalah delusi jenis Waham kebesaran (grandiose).

Penderitanya akan merasa bahwa dirinya adalah orang yang berkuasa, merasa dirinya paling cerdas dengan intelektualitas yang membumbung tinggi, serta meyakini bahwa dirinya telah melakukan suatu penemuan penting atau memiliki talenta yang hebat. Selain itu, penderitanya juga bisa meyakini bahwa dirinya memiliki kemampuan spesial atau memiliki relasi khusus dengan figur yang hebat, misalnya hubungan dengan hal – hal ghaib, pejabat atau selebritas. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Berbagai Macam Gejala Gangguan Delusi

Seseorang dikatakan menderita gangguan delusi apabila mengalami gejala delusi setidaknya satu bulan. Gejala yang umum terjadi adalah mudah marah dan emosinya tidak stabil. Gangguan ini dapat bertahan dalam beberapa bulan, namun bisa juga bertahan lama dengan intensitas yang datang dan pergi.

Selain sering berkhayal tentang kekuasaan, gejala delusi juga dapat disertai dengan halusinasi. Misalnya, pada penderita delusi yang merasa bahwa organ tubuhnya sedang membusuk bisa mengalami halusinasi berupa mencium bau busuk yang sebenarnya tidak ada, atau merasakan sensasi lainnya yang berkaitan dengan delusinya.

Delusi bisa muncul sebagai gejala dari gangguan mental psikosis pada tahap yang lebih serius. Oleh karena itu, dalam memeriksa pasien yang mengalami delusi, biasanya dokter juga mengevaluasi kemungkinan penyakit lain, seperti skizofrenia, gangguan mood, atau masalah medis yang bisa memicu gejala delusi.

Dijelaskan oleh dr Lahargo, penyebab psikosis yang diduga dialami oleh petinggi Sunda Empire dan Keraton Agung Sejagat adalah gangguan keseimbangan zat kimia di dalam saraf otak. Gangguan ini bisa terjadi bila ada kelelahan fisik dan psikis disertai kapasitas mental yang kurang baik.

“Apabila tidak ditangani dengan baik maka gangguan psikosis bisa berkelanjutan menjadi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia,” pungkasnya.

Kembali ke urusan para raja, apapun dalihnya, kemunculan mendadak berbagai kerajaan ini harus segera mendapatkan perhatian dari pemerintah. Agar masyarakat tidak terus resah, Pemerintah harus segera turun tangan untuk menertibkan kelompok-kelompok yang mengaku dari kerajaan tertentu dan mengungkap kebenarannya.


Share and Protect
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *